Heritage Kota Kediri Tak Sekadar Dikenang, Talk Show Ikatan Arsitek Indonesia : Menjadi Mesin Ekonomi Berkelanjutan

✓ Link berhasil disalin

KEDIRI – Jejak masa lalu bukan sekadar cerita yang dipahat oleh waktu. Di balik dinding bangunan tua dan warisan budaya yang bertahan hingga kini, tersimpan potensi besar untuk menggerakkan ekonomi sekaligus menjaga identitas Kota Kediri agar tetap hidup lintas generasi.

Gagasan tersebut mengemuka dalam Talk Show Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) bertema Heritage dan Identitas Kota: Merawat Masa Lalu untuk Menciptakan Masa Depan yang menjadi bagian dari rangkaian Kediri Mapan Expo 2026 di Balai Kota Kediri, Jumat (3/7).

Arsitek IAI Jawa Timur, Ar. Yayan Indrayana, ST, IAI, menegaskan paradigma pelestarian cagar budaya saat ini tidak lagi hanya berfokus pada perlindungan fisik. Menurutnya, kawasan heritage juga harus mampu memberikan manfaat ekonomi agar biaya pemeliharaan dapat dipenuhi secara berkelanjutan.

“Bangunan heritage tidak bisa hidup sendiri. Ia membutuhkan biaya agar dapat terus dipelihara. Salah satu sumber pembiayaannya adalah dari aktivitas wisata,” ujar Yayan.

Ia menjelaskan, pengembangan wisata berbasis heritage berpotensi menciptakan perputaran ekonomi yang luas, mulai dari sektor perhotelan, kuliner, transportasi hingga usaha masyarakat. Namun, pemanfaatan tersebut harus tetap memperhatikan prinsip konservasi agar tidak merusak nilai sejarah yang menjadi daya tarik utamanya.

Yayan mengingatkan adanya ancaman overtourism, yakni kondisi ketika lonjakan jumlah wisatawan justru mempercepat kerusakan bangunan bersejarah.

“Bangunan heritage harus dilindungi. Kalau terlalu banyak pengunjung, risiko kerusakannya juga meningkat,” katanya.

Karena itu, ia menilai perlu adanya keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan pelestarian. Sebagian pendapatan yang diperoleh dari aktivitas wisata di kawasan heritage, menurutnya, harus dialokasikan kembali untuk mendukung upaya konservasi.

“Meskipun target ekonominya tinggi dan kunjungan wisata meningkat, penghasilannya tidak semuanya difokuskan untuk aspek ekonomi. Tetap harus ada porsi untuk konservasi,” tegasnya.

Senada dengan itu, Tim Pusat Riset Unggulan Budaya Panji Universitas Nusantara PGRI Kediri, Drs. M. Dwi Cahyono, M.Hum, mengatakan Kota Kediri memiliki modal sejarah yang sangat kuat karena menyimpan jejak peradaban lebih dari seribu tahun.

Menurutnya, kekayaan berupa natural heritage maupun cultural heritage dapat menjadi identitas khas yang membedakan Kediri dari daerah lain apabila dikelola secara tepat.

“Tinggalan masa lalu, baik natural heritage maupun cultural heritage, dapat digunakan untuk mengarakterisasi Kota Kediri sehingga memiliki pembeda dengan kota-kota lain,” ujarnya.

Dwi menekankan bahwa pelestarian warisan budaya tidak boleh berhenti pada upaya menjaga keberadaannya. Heritage harus tetap memiliki fungsi agar terus relevan dengan kehidupan masyarakat modern.

“Tinggalan heritage harus tetap memiliki fungsi. Jangan sampai kehilangan fungsi,” katanya.

Ia mencontohkan bangunan-bangunan bersejarah yang dimanfaatkan kembali tanpa menghilangkan karakter aslinya. Selain lebih terawat, pemanfaatan tersebut juga mampu menghadirkan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Paparan kedua narasumber mendapat respons positif dari peserta seminar. Mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Nusantara PGRI Kediri, Rinjani Puspitasiwi, mengaku memperoleh perspektif baru mengenai besarnya potensi sejarah yang dimiliki Kota Kediri.

“Yang baru saya ketahui, ternyata di Kota Kediri masih banyak sejarah yang bisa dikembangkan,” ujarnya.

Diskusi tersebut menegaskan bahwa warisan budaya bukan sekadar peninggalan masa silam yang disimpan dalam ingatan. Dengan pengelolaan yang tepat, heritage dapat menjadi jembatan yang menghubungkan sejarah, identitas kota, dan kesejahteraan masyarakat tanpa kehilangan nilai autentiknya.

 

jurnalis : Anisa Fadila

✓ Link berhasil disalin