KEDIRI — Deru mesin motor berpadu dengan lantunan sholawat yang mengalun khidmat di sepanjang Jalan Stasiun, Kota Kediri, Minggu (19/4). Dalam suasana yang tak biasa, halal bihalal dan ziarah wali bersama Muhammad Iqdam Kholid menghadirkan wajah baru komunitas Ninja Kelas Malam—lebih teduh, lebih bersahaja, dan sarat makna spiritual.
Kegiatan ini tidak hanya diikuti ratusan anggota komunitas, tetapi juga dihadiri sejumlah tokoh dari berbagai daerah, di antaranya Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Wakil Bupati Blitar Beky Herdihansah, serta Wakil Bupati Nganjuk Trihandy Cahyo Saputro. Rangkaian acara dimulai dengan sambutan, dilanjutkan sholawatan, kemudian ziarah ke makam Syekh Wasil, hingga ditutup dengan riding bersama menuju Pondok Pesantren Sabilu Taubah.
Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati menilai kegiatan ini selaras dengan penguatan program Kediri City Tourism. Menurutnya, konsep touring yang dipadukan dengan kegiatan religi membuka ruang baru bagi masyarakat untuk mengenal Kota Kediri tidak hanya dari sisi geografis, tetapi juga nilai-nilai spiritual yang hidup di dalamnya.
“Ini menjadi wajah baru komunitas. Tidak sekadar berkumpul, tetapi menghadirkan nilai penghormatan kepada ulama melalui ziarah wali,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya disiplin berlalu lintas dan menjaga ketertiban selama kegiatan berlangsung, mengingat keterlibatan komunitas motor dalam jumlah besar di ruang publik.
Tumbuh Kesadaran Spiritual

Di sisi lain, Muhammad Iqdam Kholid atau Gus Iqdam menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan upaya mengubah cara pandang terhadap komunitas jalanan. Menurutnya, identitas tidak semata ditentukan oleh penampilan, melainkan oleh niat dan nilai yang dijalani.
“Barangkali kami dikenal dari jalanan. Tapi insyaallah, hati kami tetap dekat dengan para ulama dan kekasih Allah,” tuturnya.
Ia menjelaskan, ziarah ke makam Syekh Wasil menjadi pembuka rangkaian sebagai bentuk penghormatan sekaligus ikhtiar meneladani ajaran Rasulullah tentang pentingnya menghormati ulama. Dari langkah sederhana itu, ia berharap tumbuh kesadaran spiritual yang lebih luas di kalangan peserta.
Lebih jauh, Gus Iqdam juga mengajak seluruh peserta untuk menjaga etika berkendara dan tidak mengganggu pengguna jalan lain. Baginya, kebersamaan yang dibangun di atas niat baik tidak hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga diyakini membawa keberkahan.
Kegiatan ini menjadi penanda bahwa ruang jalanan dapat bertransformasi menjadi ruang perjumpaan nilai—di mana deru mesin tidak lagi sekadar simbol kebebasan, melainkan juga medium menuju kedekatan spiritual dan harmoni sosial.









