KEDIRI – Pemerintah Kota Kediri melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) menggelar pertemuan Audit Kasus Stunting Semester II. Dihadiri sejumlah narasumber, dr. Renita Ika Damayanti, selaku dokter Spesialis Anak, dr. Dibya Arfianda, Sp. OG selaku dokter Spesialis Obsetri dan Genekologi, Kristika Sadtyaruni M.Psi selaku Psikolog dan Nuzul Dwi Utami selaku Ahli Gizi. Acara digelar Selasa (22/11) bertempat di Ruang Rapat DP3AP2KB, Jalan Mayor Bismo Kota Kediri.
Disampaikan Sumedi selaku Kepala DP3AP2KB dalam sambutannya, terdapat empat tujuan untuk dilakukan audit kasus stunting di Kota Kediri. “Yang pertama mengidentifikasi risiko terjadinya stunting pada kelompok sasaran, kemudian mengetahui penyebab risiko terjadinya stunting pada kelompok sasaran sebagai upaya pencegahan dan perbaikan tata laksana kasus yang serupa,” jelas Sumedi.
Ketiga menganalisis faktor risiko terjadinya stunting pada baduta atau balita stunting sebagai upaya pencegahan, penanganan kasus dan perbaikan tata laksana kasus yang serupa dan tujuan keempat, memberikan rekomendasi penanganan kasus dan perbaikan tata laksana kasus serta upaya pencegahan yang harus dilakukan.
Apakah itu Baduta, diterangkan Kepala DP3AP2KB, ini merupakan kepanjangan dari anak usia bawah dua tahun atau umur 0-24 bulan. Dimana masa pada masa ini, anak mengalami periode pertumbuhan emas. Dengan aduit ini, lanjut Sumedi, untuk dijadikan bekal bagi calon pengantin, ibu hamil, ibu nifas, baduta dan balita.
“Merupakan Audit Stunting Semester II ini, mudah-mudahan seperti pada semester pertama kemarin ada peningkatan lebih baik. Kali ini ada penambahan 3 lokus, semoga segera terselesaikan. Untuk itu kami hadirkan para pakar semua telah teruji, semoga pengetahuan yang didapat dapat dikembangkan di masyarakat. Sesuai target Bapak Wali Kota, tahun 2024 zero stunting,” terangnya.
Sejumlah pertanyaan pun disampaikan dalam pertemuan di atas, seperti dari perwakilan Kelurahan Bandar Lor bagaimana calon pengantin harus memperbaiki gizi agar saat hamil bisa terpenuhi gizi-nya untuk kandungan. Kemudian dari perwakilan Kelurahan Bangsal terkait riwayat kehamilan yang tidak terpantau.
“Sengaja kita hadirkan perwakilan dari Kelurahan Bangsal Kecamatan Pesantren, Kelurahan Manisrenggo Kecamatan Kota dan Kelurahan Bandar Lor Kecamatan Mojoroto. Karena dari tiga lokus tersebut tertinggi. Kami hadirkan untuk dilakukan audit dan evaluasi pada Semester II ini agar ke depan terjadi penurunan,” jelas Iswanto selaku Kabid Pengendalaian Pendudukan DP3AP2KB.
Jurnalis : Kintan Kinari Astuti Editor : Nanang Priyo Basuki