KEDIRI – Menyebut nama Wimba Sutan Fanosa di jagat sepak bola Tanah Air, adalah menyebut satu fragmen bersejarah yang membekas di ingatan pecinta Persikmania. Ia bukan hanya pemain, tapi pelaku utama momen magis, saat tendangan penaltinya membawa Persik Kediri juara Liga 2 2019 dan promosi ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
Kala itu, di bawah sorot ribuan pasang mata, Wimba berdiri tenang. Sepakan penentunya ke gawang Persiraja Banda Aceh tak hanya menggetarkan jaring, tapi juga sejarah.
Kini, sang mantan bomber menjelma menjadi arsitek muda yang dipercaya menahkodai Tim Sepak Bola Porprov Kota Kediri dalam ajang Porprov Jatim 2025. Dengan latar sebagai Sarjana Ilmu Sosial Politik yang lahir di Malang, 27 Januari 1987, Wimba mengalirkan ilmunya tak hanya dari bangku kuliah, tapi dari tiap jengkal rumput hijau yang pernah ia taklukkan.
Mengantongi lisensi kepelatihan C AFC sejak 2020, ia kembali ke akar, ke desa Karangrejo, Kecamatan Ngasem, Kediri tempat semua gairah itu bermula. Wimba tak datang sebagai legenda yang hidup di masa lalu.
Ia hadir sebagai mentor masa depan. Membawa semangat, disiplin, dan pemahaman taktik, ia mengasah skuad muda Kota Kediri dengan intensitas latihan dan uji coba yang dirancang matang. Ia bukan pelatih biasa. Ia pembina karakter, penanam mental juara.
Dan buah dari ketekunannya mulai memunculkan wangi. Tim Kota Kediri melangkah gemilang ke Porprov Jatim 2025, menyingkirkan Kota Mojokerto dengan skor telak 4-2 di babak kualifikasi. Uniknya, mereka hadir bukan dengan nama-nama tenar, melainkan dengan skuad termuda dari seluruh semifinalis. Inilah wujud kepercayaan Wimba pada proses, pada potensi muda yang ia bentuk dari dasar.
“Setelah saya memutuskan pensiun, saya ingin membagikan pengalaman. Saya mulai melatih dari desa,” ujarnya lirih namun penuh tekad.
Coach Wimba kini tinggal selangkah lagi menuju final. Tapi lebih dari itu, ia sudah memenangkan hati para pemain mudanya yang kini melihat sepak bola bukan hanya sebagai pertandingan, tapi sebagai harapan.
“Komitmen saya jelas: mengembangkan sepak bola Kediri. Saya ingin melahirkan lebih banyak pemain muda yang siap bersaing di panggung nasional,” ungkapnya, dengan suara yang penuh semangat.
Dari pemain legendaris, kini menjadi pelatih inspiratif, Coach Wimba adalah cermin bahwa sepak bola bukan sekadar skor akhir. Ia tentang perjalanan, pembinaan, dan mimpi yang disulam dari desa hingga pentas prestasi.
jurnalis : Nanang Priyo BasukiBagikan Berita :









