foto : Anisa Fadila

Tumbuhkan Cinta Anak dan Perempuan dari Lingkungan Pondok Pesantren, Menteri PPPA Sampaikan Ajakan Tanamkan Akhlak Jaga Martabat Bangsa

Bagikan Berita :

KEDIRI  — Teduhnya langit sore di halaman Pondok Pesantren Lirboyo menjadi saksi lahirnya semangat baru: semangat melindungi anak-anak dan menjaga martabat manusia. Seminar bertajuk “Dari Pesantren untuk Anak: Membangun Lingkungan Aman dan Bermartabat” mempertemukan tokoh agama, pemerintah, dan pegiat perlindungan anak dalam satu tekad—menjadikan pesantren rumah yang tidak hanya menumbuhkan ilmu, tetapi juga kasih dan akhlak.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, hadir dengan pesan lantang dan lembut sekaligus: perlindungan terhadap perempuan dan anak bukan sekadar tugas pemerintah, melainkan kewajiban moral seluruh bangsa.

“Tak boleh ada kekerasan yang tumbuh di tanah kita—tidak di rumah, tidak di sekolah, tidak di pesantren,” ucapnya penuh penegasan. “Pesantren memiliki peran strategis dalam membentuk karakter, moral, dan nurani generasi masa depan.”

Menurut Arifah, akar kekerasan sering tersembunyi di antara hal-hal yang tampak sepele: ketergantungan ekonomi, pola asuh yang keliru, pengaruh media sosial yang tak terkendali, hingga longgarnya kontrol lingkungan. Maka, yang dibutuhkan bukan sekadar aturan, tapi sinergi.

“Pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat harus berjalan seirama,” ujarnya, “agar sistem perlindungan anak tidak hanya kuat di atas kertas, tapi juga hidup di hati kita.”

Dukungan penuh datang dari Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati, yang menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat koordinasi lintas lembaga.

“Perlindungan anak adalah amanah bersama. Kami siap bersinergi dengan pesantren untuk menciptakan ruang belajar yang aman, nyaman, dan bermartabat,” kata Vinanda.

Baginya, pesantren memiliki posisi istimewa dalam membentuk karakter generasi muda. Di sana, moral bukan sekadar pelajaran tambahan, melainkan napas dari setiap kegiatan. “Kolaborasi harus menyentuh akar—pengawasan, pendidikan, dan pembentukan nilai sejak dini,” tambahnya.

Sementara itu, KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, menuturkan dengan tenang namun dalam maknanya. Bagi beliau, pendidikan di pesantren selalu berakar pada akhlak dan keteladanan. “Perempuan itu tiang agama,” ujarnya lirih namun tegas. “Jika wanitanya baik, maka baiklah generasi dan masyarakatnya.”

Beliau mengingatkan, ilmu tanpa akhlak justru melahirkan kerusakan. Karena itu, di Lirboyo para santri tak hanya diajarkan kitab, tetapi juga adab. Mereka belajar kapan harus memaafkan, bagaimana menahan amarah, dan mengapa kekerasan tak pernah menjadi jawaban.

“Itulah akhlak mulia yang menjadi dasar peradaban,” tutur Kiai Kafa dengan mata teduh.

Prinsip yang dihidupi pesantren itu, katanya, sejalan dengan visi pemerintah dalam membangun lingkungan pendidikan yang aman dan bermartabat bagi anak-anak Indonesia. Dari pesantren, diharapkan lahir generasi yang tak hanya berilmu, tapi juga beradab—yang menjaga martabat dirinya, keluarganya, dan agamanya.

Seminar ini bukan sekadar forum wacana. Ia menjadi oase moral di tengah kegelisahan sosial, mengingatkan bahwa benteng sejati perlindungan anak bukan hanya undang-undang, tapi hati yang berakhlak. Karena dari pesantrenlah—tempat ilmu bertemu iman—lahir peradaban yang bermartabat.

jurnalis : Anisa Fadila
Kami atas nama PT. Kediri Panjalu Jayati menyampaikan terkait Penggunaan Ulang Karya Jurnalistik Tanpa Izin, UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dan UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Kami mengingatkan bahwa setiap konten berita yang diterbitkan oleh kediritangguh.co merupakan karya cipta yang dilindungi undang-undang. Oleh karena itu, setiap bentuk penggandaan, pengutipan penuh, maupun publikasi ulang tanpa izin melanggar hukum dan dapat dikenai sanksi pidana.
Bagikan Berita :