Kondisi buih berada di Sungai Brantas (Sigit Cahya Setiawan)

Tim Gabungan Selidiki Pembuang Limbah ke Sungai Brantas

KEDIRI – Tim gabungan Pemerintah Kota Kediri dan Polres Kediri Kota, akhirnya turun melakukan pengambilan sampel air. Pada Sungai Brantas dan anak sungai yang membawa buih berwarna putih kekuningan, diduga kuat merupakan limbah beracun.

Munculnya buih yang membawa bau tidak sedap ini sebenarnya sudah berlangsung lama, hal ini dibenarkan sejumlah orang setiap hari mencari ikan di kawasan tersebut. Salah satunya dikatakan Ateng, warga Kelurahan Kaliombo yang sedang memancing di tepi Sungai Brantas, Rabu (19/06).

“Limbah tersebut setiap hari ada. Siang seperti ini tidak bau, kalau sore limbahnya lebih banyak, terlihat kental berwarna kuning dan berbau kurang sedap,” ungkapnya.

Mendapatkan aduan, Kapolres Kediri Kota AKBP Bramsto Priaji dan Kepala DLHKP Imam Mutakkin langsung memerintahkan anggotanya turun ke lapangan. Setidaknya terdapat tiga titik lokasi diambil sampel airnya.

“Kita ambil 3 sampel yakni di atas atau hulu, tengah dan bawah atau hilir. Besok akan kita kirim ke Mojokerto untuk diuji lab,” terang Kabid Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup DLHKP, Aris Mahmudin.

Diduga Limbah Beracun

Pabrik kodok PT. Sumber Pangan Nusantara berada di wilayah Kelurahan Kampungdalem (Sigit Cahya Setiawan)

Adapun hasil pemeriksaan ini, baru akan diketahui pada 10 hingga 14 hari ke depan. Saat ditanya darimana sumber limbah ini? Aris mengaku belum bisa memastikan.

“Kita belum bisa memastikan karena banyak limbah dari rumah tangga. Misalnya di Tinalan itu ada pengolahan tahu, industri rumah tangga banyak. Jadi mengakibatkan akumulasi. Air berkurang karena kemarau. Jatuhnya air agak ke bawah mungkin timbul busa,” jelasnya.

Namun pengakuan dari sejumlah warga dan pemancing ikan, menyebutkan jika sumber limbah tersebut dari pabrik kodok PT. Sumber Pangan Nusantara berada di Kelurahan Kampungndalem. Namun saat berusaha dikonfirmasi ke perusahaan tersebut, didapat keterangan pimpinan tidak berada di tempat.

Jurnalis : Sigit Cahya Setiawan
Editor : Nanang Priyo Basuki