KEDIRI – Upaya penyediaan air bersih bagi warga terdampak pencemaran di Desa Ploso Lor Kecamatan Plosoklaten, mulai dilakukan pihak PT. Sinergi Gula Nusantara (SGN) MKSO Tebu Kebun Dhoho. Disampaikan Kades Ploso Lor, Pujiyono, rencana akan melakukan pengeboran pada 17 titik sumur untuk warga terdampak.
“Hari ini untuk meneliti, agar penanganan pemberian bantuan air bersih pada masyarakat bisa segera teratasi. Jadi sebelum tim dari kabupaten turun, ini tim sewaan dari PT SGN mendahului melakukan uji coba,” jelas Pujiyono dikonfirmasi Senin (21/04).
Pengeboran dilakukan hingga kedalaman 20 meter, lebih dalam dibanding pengeboran sebelumnya oleh pihak desa yang hanya mencapai lima meter. Pujiyono menegaskan bahwa titik ini nantinya akan menjadi sampel utama untuk menentukan kelayakan pengeboran di titik lokasi lainnya.
“Kalau nanti hasilnya bagus, titik ini bisa jadi acuan. Tapi kalau tidak, opsi terakhir adalah sumur dalam, meskipun operasionalnya cukup tinggi,” tambahnya.
Bintoro Edi, salah satu warga yang terdampak pencemaran berharap pengeboran ini menjadikan solusi dan bentuk tanggungjawab.
“Kalau tanggapan dari warga, ya terima kasih. Ini menunjukkan ada solusi. Sekarang tinggal nunggu hasilnya bagaimana. Harapannya cuma satu air bersih yang layak, dan warga tidak dibebani biaya,” ucapnya.
Ia juga menambahkan, hingga saat ini bantuan air bersih masih disalurkan setiap hari, dengan total tujuh drum untuk warga.
“Alhamdulillah, meski kadang habis cepat, warga belum sampai kekurangan,” ujarnya.
Terkait kasus pencemaran hingga berita ini diturunkan, pihak PT. SGN terkesan bungkam dan berusaha menghindar saat dikonfirmasi. Melalui salah satu staf, didapat penjelasan jika masih melakukan rapat. Begitu juga pihak Polres Kediri, Kasat Reskrim Polres Kediri AKP Fauzi Pratama juga belum bisa dikonfirmasi melalui telepon seluler-nya.
Diberitakan sebelumnya, Komisi III DPRD Kabupaten Kediri mendesak semua pihak yang relevan untuk bergerak cepat dan konkret dalam menangani permasalahan ini. Masyarakat berharap air sumur mereka dapat kembali layak untuk dikonsumsi.
jurnalis : Muhamad Dastian YusufBagikan Berita :









