KEDIRI – Momentum Perayaan Paskah di Kediri, perhatian tertuju pada sebuah desa dengan mayoritas warganya beragama Kristen dengan jumlah terbanyak di Kediri. Tepatnya di Desa Sidorejo Kecamatan Pare Kabupaten Kediri.
Ditemui di rumahnya, Kades Sidorejo, Bagus Kristi Santo, menyampaikan bahwa cikal bakal Desa Sidorejo dimulai sekitar tahun 1800-an. Saat itu, beberapa warga dari Mojowarno, Jombang, datang untuk membuka lahan dan mencari penghidupan baru.
“Warga datang dari Jombang ke Sidorejo untuk babat alas. Mereka kesulitan ekonomi di kampung halaman dan akhirnya menetap di sini, membawa serta ajaran agama dan komunitas gereja mereka,” jelas Bagus, Jumat (18/04).
Akhirnya berkembang, dimana dari sekitar 5 ribu penduduk, 98 persen beragama Kristen. dari total hampir 5.000 penduduk. Berdasarkan data, desa ini berdiri sejak akhir abad ke-19, diawali didirikan Gereja Jemaat Kristen Jawa (GKJW). Bukan hanya pusat pemukiman, akhirnya menjadi pusat peribadatan bagi umat Kristiani.
Menurutnya, hingga kini Sidorejo memiliki tiga gereja aktif, yakni GKJW Jemaat Sidorejo yang berdiri sejak tahun 1933, GKJW Dusun Purworejo yang dibangun pada 1996, dan satu lagi gereja kecil DPDI di ujung barat desa.
Pun demikian, di desa ini juga terdapat warga beragama Islam meski berjumlah tidak lebih 300 orang. Hal ini dibuktikan dengan berdirinya dua masjid, yaitu Masjid Nurul Huda dan Masjid Nurul U’la. Seiring perjalanan waktu hingga sekarang, hubungan antar umat beragama mampu terjaga dengan sangat baik.
“Kalau hajatan, semua saling bantu. Hari raya Idul Fitri maupun Natal, semua saling silaturahmi. Bahkan banner Idul Ftri masih terpampang di perempatan desa,” tambah Bagus.
Senada dengan itu, pihak GKJW Sidorejo melalui Pendeta David Setiawan, mengungkapkan. Bahwa sejarah desa ini tak lepas dari pertemuan besar gereja-gereja se-Karesidenan Kediri dan Madiun pada tahun 1895. Pertemuan itu menghasilkan keputusan untuk membuka wilayah baru bagi warga jemaat yang kesulitan ekonomi.
“Daerah ini dulunya bekas kebun kopi yang tidak terurus. Kemudian diusulkan menjadi pemukiman Kristen. Saat itu, untuk menetap di sini memang harus seorang jemaat gereja. Itu sebabnya hingga sekarang mayoritas warga adalah Kristen,” terang David.
Namun, sejak kemerdekaan, syarat keagamaan sebagai dasar kependudukan tak lagi berlaku. Desa dan gereja sepakat membuka diri terhadap siapa pun yang ingin tinggal, tanpa memandang agama. Hasilnya, keberagaman mulai tumbuh, walau tetap didominasi umat Kristiani.
Merawat Kerukunan Umat

Terkait kerukunan antar umat beragama selama ini terjaga, dibenarkan Kyai Nur Sareh merupakan takmir Masjid Nurul U’la. Menurutnya, bahwa kerukunan di Desa Sidorejo bukan sekadar narasi, tapi telah menjadi budaya.
“Di sini bermasyarakatnya bagus sekali. Saya dan Bu Lurah dulu satu sekolah. Masjid dan gereja berdiri berdampingan, tidak pernah ada masalah. Kegiatan keagamaan saling didukung,” ujar Kyai Nur Sareh.
jurnalis : Muhamad Dastian Yusuf