KEDIRI – Bertempat di Rumah Kompos Kemuning berada di Lingkungan Muning Kelurahan Lirboyo, Sabtu (15/11), asa tentang ketahanan pangan keluarga tumbuh dari sesuatu yang kerap kita abaikan: sampah rumah tangga. Melalui gerakan Pokmas Lirboyo Mapan, masyarakat diajak melihat bahwa sampah bukan sekadar sisa kehidupan, melainkan sumber daya yang, bila disentuh kreativitas, mampu menghadirkan manfaat berlipat.
Wakil Wali Kota Kediri, Qowimuddin Thoha, membuka kegiatan itu dengan pesan yang tegas namun membumi. Ia mengingatkan bahwa problema sampah bukan hanya bayang-bayang bagi Kota Kediri, tetapi menjadi tantangan lintas wilayah. Karena itu, peran masyarakat menjadi kunci yang tak bisa dinegosiasikan.
“Kita tidak bisa menyerahkan sepenuhnya urusan sampah hanya kepada pemerintah. Tidak bisa,” ujarnya, menegaskan bahwa penanganan sampah adalah kerja bersama yang dimulai dari ruang-ruang terkecil: RT, RW, hingga kelurahan.
Gus Qowim sapaan akrab beliau melihat Pokmas Lirboyo Mapan sebagai potret nyata bahwa perubahan bisa dirajut dari skala paling dekat dengan kehidupan warga. Saat kreativitas bersanding dengan inovasi, sampah pun menjelma menjadi dua sisi mata uang: sumber persoalan bila dibiarkan, namun sumber nilai bila diolah.
Jika gerakan ini dirawat dengan konsistensi, ia optimistis Lirboyo dapat tumbuh sebagai pilot project yang menginspirasi kawasan lain. Lebih dari itu, konsep ketahanan pangan berbasis sampah selaras dengan arah Kota Kediri yang ingin mendorong produktivitas, kemandirian, sekaligus kreativitas warganya.
Sapu Botol Air Mineral

Pemahaman teknis mengenai pengelolaan sampah diperdalam oleh pegiat lingkungan Sujiman, yang menjadi narasumber pelatihan. Dengan gaya yang lugas, ia menunjukkan betapa sederhana dan bersihnya proses mengolah sampah organik menjadi kompos yang siap menjadi pupuk bagi tanaman.
Ia juga memperkenalkan cara mengubah botol air mineral menjadi sapu—produk yang menurutnya jauh lebih berguna dibanding berbagai kerajinan lain yang hanya memenuhi rak. Bahkan, beberapa daerah datang melakukan studi banding dan menjadikannya sebagai suvenir khas.
Tak berhenti di situ, Sujiman menekankan bahwa ketahanan pangan berbasis sampah sesungguhnya bisa dimulai dari rumah. Galon bekas air mineral dapat menjadi pot tanaman, menggantikan polybag. Kompos buatan sendiri menjadi pupuk yang menyehatkan tanah. Dari sisa-sisa yang tak terpakai, kehidupan baru disemai.
Namun ia tak menutupi bahwa tantangan terbesar justru berada pada perubahan kebiasaan. Teknik membuat kompos atau menyulap botol menjadi sapu mungkin mudah dilakukan. Tetapi, membangun budaya memilah sampah membutuhkan komitmen. Meski demikian, antusiasme warga Lirboyo hari itu menjadi alasan kuat baginya untuk percaya bahwa perubahan sedang bertunas.
Di sela pelatihan, hadir pula Kasat Narkoba Polres Kediri Kota, AKP Endro Purwandi, yang memberikan edukasi mengenai jenis-jenis narkoba dan bahaya penyalahgunaannya serta bercocok tanam merupakan solusi strategis dalam pencegahan. Dengan upaya ini memperkuat langkah warga, bukan hanya dalam menjaga lingkungannya, tetapi juga dalam melindungi keluarga dari ancaman sosial yang tak kasat mata.









