KEDIRI – Pemerintah Kabupaten Kediri mulai melangkah konkret menindaklanjuti arahan Presiden RI Prabowo Subianto terkait kebijakan ASRI (bersih, tertata, dan aman). Arahan tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) bersama seluruh kepala daerah se-Indonesia yang digelar di Bogor, awal Februari lalu.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kediri, Putut Agung Subekti, mengungkapkan bahwa tindak lanjut kebijakan ASRI kini telah memasuki tahap persiapan awal.
Bahkan, DLH telah menerima surat resmi dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) yang ditujukan kepada seluruh gubernur serta bupati dan wali kota di Indonesia.
“Surat dari KLH ini merupakan tindak lanjut langsung dari arahan Presiden. Intinya, setiap kepala daerah diminta melaksanakan kegiatan kurve atau kerja bakti secara rutin, minimal satu kali dalam sepekan, dan melaporkan pelaksanaannya secara berkala,” terang Putut.
Menindaklanjuti hal tersebut, DLH Kabupaten Kediri segera melaporkannya kepada Bupati Kediri sekaligus menyiapkan aksi awal berupa kegiatan bersih-bersih serentak.
Rencananya, kegiatan perdana akan dilaksanakan pada 13 Februari di kawasan Simpang Lima Gumul (SLG), sebelum memasuki bulan Ramadan.
“Saat ini masih tahap pelaporan dan perizinan kepada Bupati. Jika disetujui, tanggal 13 Februari kita mulai aksi bersih-bersih sebagai langkah awal secara kolaboratif,” ujarnya.
Aksi ASRI ini dirancang melibatkan berbagai unsur lintas sektor, mulai dari TNI-Polri, perangkat daerah, hingga elemen masyarakat seperti paguyuban pedagang kaki lima (PKL), pelajar, organisasi perempuan, dan kader PKK.
Putut menegaskan, gerakan ini tidak berhenti pada seremoni semata, melainkan menjadi pemantik perubahan budaya yang berkelanjutan.
“Ini adalah genderang awal. Ke depan, kami juga menyiapkan surat edaran yang mengatur teknis pelaksanaan kurve di kantor pemerintahan, kecamatan, desa, hingga lingkungan masyarakat,” jelasnya.
Dalam surat edaran tersebut nantinya akan diatur mekanisme kerja bakti, sistem pelaporan, hingga kewajiban pemilahan sampah organik dan anorganik. Seluruh kegiatan akan dimonitor dan dilaporkan secara berkala ke pemerintah pusat.
Putut menekankan, fokus kebijakan ASRI tidak hanya menyasar aksi bersih-bersih di hilir, tetapi juga penguatan pengelolaan sampah dari hulu atau sumbernya. Menurutnya, kerja bakti tanpa perubahan perilaku hanya akan memindahkan persoalan sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA).
“Yang paling penting adalah kesadaran di sumbernya. Masyarakat harus mengurangi, memilah, dan tidak membuang sampah sembarangan. Kalau hulunya tidak dibenahi, TPA akan terus kewalahan,” tegasnya.
Sebagai bagian dari strategi tersebut, DLH Kabupaten Kediri juga memperkuat pembentukan kader lingkungan dari kalangan ibu-ibu PKK. Mereka diharapkan menjadi agen perubahan dalam menyosialisasikan pengurangan sampah, termasuk pembatasan penggunaan plastik sekali pakai yang telah diatur melalui peraturan bupati.
“Tantangan terbesar memang ada pada kesadaran. Industri plastik terus berjalan, tapi yang bisa kita intervensi adalah perilaku penggunaan. Karena itu, saat aksi bersih-bersih nanti, peserta kami imbau membawa tumbler sendiri. Jangan sampai kerja bakti justru menambah sampah baru,” ujarnya.
Terkait kawasan wisata seperti SLG yang dipadati aktivitas PKL, Putut menilai regulasi sebenarnya sudah memadai. Fokus DLH saat ini bukan pada penambahan sanksi, melainkan pelibatan dan peningkatan kesadaran.
“Kami ingin PKL dan pengunjung ikut terlibat. Pernah kami ajak PKL kerja bakti bersama agar mereka melihat langsung seberapa besar sampah yang dihasilkan. Jika sudah peduli, kawasan ini akan nyaman untuk semua,” katanya.
Putut menegaskan, Pemerintah Kabupaten Kediri siap menyukseskan agenda nasional ASRI. Menurutnya, persoalan sampah bukan hanya isu daerah, melainkan persoalan nasional yang juga menjadi bagian dari RPJMN.
“Kalau Presiden sudah memberi perintah, daerah pasti siap. Ini persoalan bersama. Pemerintah, masyarakat, dan semua pihak harus bergerak,” tandasnya.
Ia pun mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Kediri menjadikan kebersihan sebagai bagian dari budaya sehari-hari.
“Mari kita wujudkan Kediri yang berbudaya bersih. Tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi plastik sekali pakai, dan peduli lingkungan. Lingkungan yang bersih bukan hanya sehat, tetapi juga indah dan nyaman,” pungkasnya.









