KEDIRI – Menjadi atlet bukan hanya soal fisik dan medali, tapi juga perjuangan di balik layar yang sering tak terlihat. Hal inilah yang dirasakan oleh Imelda Anggun Febrianti, atlet muda cabang olahraga Kurash asal Kabupaten Kediri. Di tengah persiapan menuju Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2025, Imelda dan lima rekan setimnya harus berlatih tanpa pelatih sejak awal 2024.
Kurash, seni bela diri tradisional asal Uzbekistan, memang masih asing bagi banyak orang di Indonesia, termasuk di Kediri. Namun, bagi Imelda, olahraga ini telah menjadi bagian dari hidupnya sejak pertama kali dikenalkan oleh temannya, Dias, saat ia duduk di bangku kelas 2 SMA. Saat itu, rasa penasaran berubah menjadi ketertarikan mendalam.
“Awalnya cuma penasaran, tapi lama-lama saya merasa jiwa saya tertanam di Kurash,” tutur Imelda.
Meski tergolong pendatang baru, Kurash mulai berkembang di Kabupaten Kediri sejak 2021. Debutnya di ajang Porprov Jawa Timur dimulai pada 2023. Di situlah nama Imelda mulai bersinar—ia berhasil menyabet medali perunggu di kelas +70 kg putri. Tak berhenti di situ, ia juga meraih juara 3 di Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Beach Kurash 2024 yang digelar di Banyuwangi.
Namun, prestasi itu tak datang dengan mudah. Sejak kontrak pelatih mereka habis dan belum diperpanjang, Imelda dan tim harus berlatih secara mandiri. Janji dari pengurus cabang olahraga untuk mendatangkan pelatih baru tak kunjung terealisasi. Kondisi ini membuat mereka kesulitan dalam membangun kekuatan fisik dan teknik secara terarah.
“Tanpa pelatih, kami latihan seadanya. Kami nggak tahu kemampuan kami sudah sejauh mana, dan itu bikin kami ragu,” ungkapnya.
Pernah ada bantuan dari atlet PON asal Surabaya yang membantu melatih mereka, namun hanya berlangsung selama sebulan. Kini, para atlet saling melatih satu sama lain dan bahkan mulai membina generasi muda yang baru mengenal Kurash. Namun, tidak adanya pelatih berdampak serius—bukan hanya pada kualitas latihan, tapi juga pada aspek penting seperti pengaturan pola makan dan manajemen berat badan.
“Dulu pelatih yang bantu atur berat badan, kasih vitamin, arahkan target latihan. Sekarang semua harus kami pikirkan sendiri,” tambah Imelda.
Kondisi ini tak membuat semangat Imelda surut. Ia justru semakin terdorong untuk mengembangkan Kurash di Kediri, terutama karena masih minimnya peminat. Ia berharap, pengurus cabang olahraga segera turun tangan dan menghadirkan pelatih yang benar-benar kompeten di bidangnya.
“Saya ingin terus berkembang dan tetap konsisten. Harapan saya, adik-adik atlet juga bisa punya kesempatan yang lebih baik ke depannya,” ujarnya menutup penuh harap.
Jurnalis : Neha Hasna MaknunaBagikan Berita :









