KEDIRI – Udara pagi di kawasan Tirtoyoso Park dipenuhi semangat dan tawa sarat persaudaraan, Minggu (2/11). Ribuan langkah berpadu dalam satu irama, terdiri para santri, masyarakat, dan berbagai kalangan yang berbaur tanpa sekat dalam Jalan Sehat Santri Sarungan. Dengan sarung yang berkibar ringan dan senyum yang tak lekang oleh matahari, mereka melangkah bukan hanya untuk sehat, tapi untuk merayakan makna kebersamaan.
Acara ini diselenggarakan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Kediri, kegiatan ini tidak sekadar olahraga. Ia menjelma menjadi simbol persatuan, pertemuan antara semangat santri, nilai perjuangan para ulama, dan denyut kehidupan masyarakat yang tak pernah lelah berjuang bersama.
Wakil Wali Kota Kediri, Qowimuddin Thoha, menegaskan makna di balik kegiatan ini. Bagi Gus Qowim sapaan akrabnya, Jalan Sehat Santri Sarungan bukan sekadar langkah-langkah rekreasi, melainkan napas perjuangan yang dihidupkan kembali.
“Makna jalan sehat ini adalah untuk mengingat kembali peran besar para santri dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Dari Resolusi Jihad yang disampaikan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, lahirlah semangat 10 November — bukti nyata bahwa santri punya andil besar dalam sejarah bangsa,” ujarnya penuh keyakinan.
Momentum Kebersamaan

Nada yang sama bergema dari Ketua PCNU Kota Kediri, KH Abu Bakar Abdul Jalil, yang memuji seluruh pihak atas terselenggaranya acara dengan penuh semangat kebersamaan. Ia menekankan bahwa kegiatan ini bukan hanya peringatan, melainkan ungkapan syukur dan pengikat persaudaraan.
“Hari Santri bukan sekadar perayaan seremonial. Ini adalah momentum untuk meneguhkan kebersamaan dan semangat gotong royong yang menjadi jantung kehidupan masyarakat kita,” tuturnya.
Ribuan peserta menyusuri rute yang membentang dari Jalan Ahmad Yani, Pahlawan Kusuma Bangsa, Jalan Pemuda, KH Umar, hingga Imam Bonjol, sebelum akhirnya kembali ke Tirtoyoso Park — tempat di mana kebersamaan dimulai dan dirayakan.
Suasana penuh warna, diiringi lantunan shalawat, tawa anak-anak, dan semangat para santri yang tak pudar. Di antara langkah-langkah itu, terselip doa agar semangat Hari Santri terus tumbuh — menumbuhkan cinta tanah air, mempererat silaturahmi, dan menjaga nilai gotong royong agar tetap hidup di tengah masyarakat.
Dari Kota Kediri, langkah para santri hari ini bukan hanya menuju garis akhir, tapi menuju masa depan — di mana ilmu, akhlak, dan perjuangan terus berjalan berdampingan.









