KEDIRI – Pemerintah Kota Kediri terus menggencarkan upaya penurunan angka stunting melalui Program Bangga Kencana, yang difokuskan pada perencanaan keluarga, kesehatan reproduksi, pendidikan anak, dan pencegahan stunting. Salah satu langkah nyata yang dilakukan adalah dengan menyelenggarakan Mini Lokakarya Stunting tingkat kecamatan, yang diawali di Kecamatan Mojoroto pada Rabu (21/5).
Kegiatan ini bukan hanya berhenti di Mojoroto. Dua kecamatan lain, yaitu Pesantren dan Kota, juga akan menjadi lokasi penyelenggaraan kegiatan serupa yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis (22/5) dan Selasa (27/5) mendatang. Lokakarya ini diharapkan menjadi ruang koordinasi lintas sektor dalam mengakselerasi penurunan angka stunting yang masih menjadi persoalan serius di Kota Kediri.
Data Jadi Kunci, TPK Diminta Aktif Entry Data Stunting
Kepala DP3AP2KB Kota Kediri, Arief Cholisudin Yuswanto, menegaskan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada keakuratan data. Karena itu, camat dan lurah diminta aktif mengorganisasi Tim Pendamping Keluarga (TPK) agar segera melakukan pendataan balita stunting melalui aplikasi khusus milik Pemkot Kediri.
“Data ini bukan sekadar angka, tapi fondasi untuk menentukan langkah intervensi yang tepat sasaran. Kami akan evaluasi rutin setiap bulan, jadi koordinasi antara camat, lurah, dan TPK sangat penting,” ujarnya.
Mojoroto: Tertinggi Angka Stunting, Tapi Punya Komitmen Kuat
Camat Mojoroto, Bambang Tri Lasmono, secara terbuka mengakui bahwa wilayahnya memiliki angka stunting tertinggi di Kota Kediri, yakni mencapai 358 balita. Ia menyebut faktor tingginya jumlah penduduk sebagai penyebab utama. Namun, Bambang tidak tinggal diam. Ia menggarisbawahi pentingnya sinergi antara pemangku kebijakan, kader, TP PKK, hingga stakeholder lokal untuk mempercepat penanganan.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Penanganan stunting butuh pendekatan menyeluruh – dari aspek kesehatan, sosial, hingga budaya. Kami juga melibatkan tokoh masyarakat dan pegiat perempuan untuk mengedukasi masyarakat secara religius dan persuasif,” jelasnya.
Sebagai bagian dari strategi, pihak kecamatan juga akan mengadakan bimbingan teknis bagi TP PKK dan Penyuluh Keluarga Berencana agar mereka mampu melakukan konseling secara efektif di lapangan. Pendekatan ini diharapkan mampu menggali akar masalah sekaligus menciptakan solusi yang berkelanjutan.
Kolaborasi Jadi Kunci, Evaluasi Berkelanjutan Menjadi Strategi
Mini lokakarya yang digelar di Aula Kecamatan Mojoroto ini turut melibatkan lintas instansi, termasuk Dinas Kesehatan, Dinas Kominfo, dan DP3AP2KB. Dengan kehadiran berbagai pemangku kepentingan – dari camat, lurah, PKB, hingga petugas puskesmas – forum ini diharapkan bukan sekadar seremoni, tapi jadi ajang diskusi strategis yang mampu melahirkan solusi konkret.
Melalui pendekatan kolaboratif dan evaluasi berkala, Pemkot Kediri ingin memastikan bahwa upaya penurunan stunting bukan sekadar wacana, melainkan gerakan nyata yang bisa menjadikan Kota Kediri lebih MAPAN – Mandiri, Produktif, dan Aman untuk Anak-anaknya. (*)
Bagikan Berita :








