KEDIRI – Puluhan warga Dusun Putat, Desa Manyaran, Kecamatan Banyakan, masih hidup dalam bayang-bayang kecemasan. Meski telah menerima paket sembako dari Pemerintah Kabupaten Kediri, rasa takut itu tak kunjung hilang—terutama karena proyek pembangunan jalan tol yang berdiri di wilayah mereka belum juga rampung. Proyek yang diharapkan membawa pembangunan, justru menyisakan risiko banjir yang semakin sering menghantui.
Kecemasan itu diungkapkan Jumini, salah satu warga terdampak, ketika ditemui di Balai Desa Manyaran saat penyaluran bantuan berlangsung. Ia menceritakan bagaimana air tiba-tiba menerjang rumahnya pada malam hari. Ketinggian air, kata dia, bahkan mencapai lutut di permukiman yang berada di titik lebih rendah.
“Tetap takut, soalnya bangunan tol itu kan belum jadi. Dulu pernah banjir, tapi nggak sampai masuk rumah seperti kemarin,” ungkapnya, Rabu (19/11).
Pernyataan itu menjadi sinyal kuat bahwa warga merasa keberadaan proyek tol belum memberikan rasa aman, malah menambah kekhawatiran.
Warga kini berharap normalisasi sungai dan perbaikan jalur air segera dilakukan agar ancaman banjir susulan tidak lagi menjadi momok. Pemerintah desa bersama BPBD Kabupaten Kediri menyatakan akan terus memantau kondisi dan meningkatkan koordinasi untuk menekan potensi bencana.
Seperti diketahui, banjir kembali merendam permukiman dan lahan pertanian warga pada Minggu (16/11) akibat meluapnya Sungai Bendo Krosok. Bayu Adi Santoso, Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kabupaten Kediri, menjelaskan bahwa bantuan yang disalurkan berasal dari anggaran reguler BPBD untuk korban bencana. Paket bantuan berisi beras, lauk-pauk, serta family kit dengan sekitar 10 item kebutuhan dasar.
“Ini kami berikan agar warga lebih semangat menghadapi bencana. Semoga tidak terjadi banjir lagi,” ujarnya.
Namun persoalan banjir bukan sekadar urusan bantuan. Kepala Desa Manyaran, Budiharjo, menegaskan bahwa pihaknya sudah berkoordinasi dengan PT Hastari, penggarap proyek tol, terkait kebutuhan normalisasi aliran sungai.
Ia mengungkapkan bahwa dua gorong-gorong sudah dibangun di bawah jalur tol. Namun intensitas hujan yang tinggi membuat gorong-gorong tersebut tidak mampu menahan debit air. Akibatnya, luapan air merendam lahan pertanian dan permukiman.
“Gorong-gorong itu tidak mampu menahan debit air sehingga meruak ke lahan pertanian dan pemukiman,” jelasnya.
Budiharjo menambahkan, sebagian lahan pertanian di perbatasan Putat–Kendon ikut terdampak. Tanaman padi yang baru tumbuh banyak yang roboh dihantam arus, memperburuk kerugian warga yang sebelumnya hanya mengandalkan hasil panen untuk bertahan hidup.
Situasi ini menunjukkan bahwa pembangunan tidak boleh hanya mengejar kemajuan infrastruktur semata, tetapi juga memastikan keselamatan warga sekitar. Warga Manyaran kini menunggu tindakan konkret: normalisasi sungai, perbaikan jalur air, dan evaluasi serius terhadap proyek tol yang hingga kini belum memberi jaminan keamanan.









