foto : Anisa Fadila

Ketangguhan Perempuan Fondasi Indonesia Emas, Sosok Ibu Bagaikan Pilar Penjaga Bangsa

Bagikan Berita :

KEDIRI — Dalam diam, seorang ibu kerap memikul peran ganda: merawat dengan kasih, sekaligus menguatkan keluarga sebagai fondasi masa depan generasi. Makna itulah yang mengemuka dalam upacara peringatan Hari Ibu ke-97 yang dirangkai dengan Hari Bela Negara ke-77, digelar Pemerintah Kota Kediri, Senin (22/12), di halaman Balai Kota Kediri.

Momentum tersebut menjadi ruang refleksi tentang peran strategis perempuan dalam perjalanan bangsa. Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati, menegaskan bahwa Hari Ibu bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan pengingat akan kekuatan perempuan sebagai penggerak perubahan sosial dan pembangunan manusia.

Tahun ini, peringatan Hari Ibu mengusung tema Perempuan Berdaya dan Berkarya Menuju Indonesia Emas 2045. Tema tersebut menempatkan perempuan sebagai aktor utama dalam membangun peradaban—dari lingkup keluarga hingga panggung nasional.

“Di tengah berbagai tantangan, perempuan tetap hadir sebagai pendidik generasi, penggerak ekonomi keluarga, pemimpin komunitas, inovator, sekaligus penjaga nilai-nilai kemanusiaan,” ujar Mbak Wali.

Menurutnya, ketangguhan perempuan tidak hanya tercermin di ruang publik, tetapi tumbuh kuat dari lingkungan keluarga. Dari rumah, nilai karakter, kepedulian sosial, hingga semangat cinta tanah air ditanamkan, membentuk generasi yang kelak menjadi penopang masa depan bangsa.

Komitmen tersebut, lanjut Vinanda, terus diperkuat Pemerintah Kota Kediri melalui kebijakan perlindungan dan pemberdayaan perempuan, penguatan sistem pendukung, serta pengarusutamaan gender. Seluruh ikhtiar itu diarahkan untuk melahirkan sumber daya manusia unggul sebagai bekal menuju Indonesia Emas 2045.

Di balik kebijakan dan gagasan besar, ketangguhan perempuan hadir nyata dalam keseharian. Narni, seorang Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA), menjadi potret keteguhan yang lahir dari keadaan. Ia menjalani peran ganda sebagai ibu sekaligus tulang punggung keluarga demi menjaga harapan anak-anaknya tetap menyala.

“Untuk menghidupi keluarga, saya berdagang. Pernah berjualan es degan, roti bakar, dan sekarang gorengan keliling,” tuturnya pelan, namun sarat keteguhan.

Bagi Narni, perjuangan seorang ibu bukan semata tentang mencukupi kebutuhan ekonomi, tetapi juga tentang memberi teladan. Di tengah keterbatasan, ia berusaha tetap hadir sebagai sosok yang menanamkan arah dan nilai bagi anak-anaknya.

Ia berharap peringatan Hari Ibu menjadi pengingat bagi generasi muda agar kembali memahami makna dan peran orang tua dalam kehidupan—terutama menghargai perjuangan ibu yang sering berjalan tanpa sorotan.

Menurutnya, peran orang tua, khususnya ibu, sangat menentukan dalam membentuk generasi muda dan generasi emas. Keteladanan di rumah, nilai kebersamaan, serta sikap saling menghargai menjadi kunci agar Indonesia melangkah maju tanpa meninggalkan keluarga sebagai pondasi utama bangsa.

Bagikan Berita :