korban ASP (istimewa)

Kekerasan di Lapas Kediri: Tahanan 19 Tahun Disodomi, Dipaksa Makan Cacing, Staples Bahkan Pines

KEDIRI – Dugaan kasus kekerasan tidak manusiawi terjadi di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kediri. Seorang tahanan muda berusia 19 tahun, ASP, menjadi korban sodomi dan penganiayaan brutal hingga harus dirawat intensif di RSUD SLG Kabupaten Kediri.

Kuasa hukum korban, Rofian, membeberkan kronologi kejadian. Pada Selasa (26/08), ASP disodomi oleh sesama tahanan bernama Remon Peterpan (30). Kejadian berlanjut sehari setelahnya ketika korban menolak permintaan serupa. ASP justru dipukuli Remon bersama rekannya, Adam Subroto (32).

“Klien kami tidak hanya disodomi, tapi juga dipaksa makan cacing, staples, bahkan pines. Tindakan ini sangat tidak manusiawi. Remon sendiri sebelumnya terjerat kasus kekerasan anak, sementara ASP masih berusia 19 tahun,” ungkap Rofian.

Kondisi Korban Memburuk

Kekerasan baru terungkap pada Rabu sore setelah kondisi korban melemah. ASP mengeluhkan sakit perut parah hingga tidak mampu buang air besar. Saat ini, ia masih menjalani perawatan medis sekaligus pendampingan psikologis.

Muhammad Ridwan, anggota tim hukum korban, menambahkan bahwa kondisi mental ASP sangat terguncang.
“Korban jadi murung, tidak mau makan, dan terus terbayang perlakuan kejam itu. Ini harus jadi perhatian serius,” jelasnya.

Tindakan Lapas Kediri

Pihak Lapas Kediri membenarkan peristiwa tersebut. Kalapas Kelas IIA Kediri, Solichin, menyebut pelaku telah dipindahkan ke sel isolasi atau sel tikus.

“Dalam satu kamar ada 37 napi. Kejadiannya malam hari, sehingga saksi lain mengaku tidak mengetahui. Saat ini kami masih menunggu arahan Kanwil terkait sanksi lanjutan bagi para pelaku,” kata Solichin.

Kuasa Hukum Dorong Proses Hukum

Meski pelaku sudah meminta maaf dalam proses mediasi, pihak kuasa hukum korban menilai kasus ini tidak bisa diselesaikan secara damai.

“Kami menduga ini hanya puncak gunung es. Bisa jadi ada korban lain yang belum berani bicara. Kami segera melaporkan ke kepolisian agar kasus ini diproses secara hukum,” tegas Rofian.

Over Kapasitas Jadi Pemicu

Kondisi Lapas Kediri yang mengalami over kapasitas diduga turut memicu tindak kekerasan antar tahanan. Jumlah penghuni yang berlebih membuat pengawasan tidak maksimal dan interaksi antar narapidana rawan gesekan.

“Lapas seharusnya menjadi tempat pembinaan, bukan arena kekerasan. Harus ada langkah tegas agar kejadian seperti ini tidak terulang,” pungkas Ridwan.

jurnalis : Sigit Cahya Setyawan