Funcross menjadi suguhan spesial dalam KSF (Bram Radyan)

Kediri Scooter Festival ke-8: Ribuan Scooterist Ramaikan Ajang Penuh Tantangan dan Persaudaraan

Bagikan Berita :

KEDIRI – Kediri Scooter Festival (KSF) ke-8 sepertinya bakal sukses digelar dihadiri puluhan ribu scooterist dari sejumlah daerah hingga manca negara. yang menarik event Funcroos tercatat 80 pembalap daftar sebagai peserta dari berbagai kota. Event ini bukan sekadar lomba, tapi juga ajang memperkenalkan potensi wisata dan budaya Kota Kediri.

Deru mesin klasik kembali menggema di langit Kota Kediri. Gelaran Kediri Scooter Festival (KSF) ke-8 tahun ini menjadi bukti nyata bahwa semangat komunitas scooterist di Indonesia tak pernah padam. Di tengah debu lintasan dan aroma bensin, para pecinta Vespa dari berbagai daerah berkumpul dalam satu frekuensi: persaudaraan dan kecintaan terhadap roda dua klasik.

Salah satu daya tarik utama festival ini adalah lomba Scooter Funcross, yang diikuti oleh 80 peserta. Menurut Reza Pecel, koordinator event, panitia sebenarnya menargetkan 70 peserta saja. Namun, antusiasme luar biasa datang dari berbagai penjuru negeri, dari Salatiga, Bandung, Probolinggo, hingga Banyuwangi, hingga jumlah peserta melampaui target.

“Tahun ini tidak ada kategori baru, tetap empat kelas seperti sebelumnya: standar pabrik, standar tune up, free for all (FFA), dan sespan. Untuk lintasan kami buat lebih menantang agar para peserta bisa benar-benar menguji kemampuan dan nyali mereka,” ujar Reza dikonfirmasi Sabtu (11/10).

Panitia bekerja keras menyiapkan lintasan yang lebih ekstrem dibanding tahun sebelumnya. Jalur tanah yang berdebu, tikungan tajam, dan gundukan tinggi menjadi medan laga para scooterist sejati.

Setiap peserta tak hanya bersaing memperebutkan podium, tetapi juga berbagi pengalaman dan tawa di paddock. Suasana kebersamaan begitu terasa, seolah setiap deru knalpot menyuarakan semangat solidaritas antar-scooterist.

Tak hanya menjadi ajang olahraga otomotif, KSF juga menjadi sarana promosi wisata dan produk unggulan khas Kota Kediri.

Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati, menegaskan bahwa festival ini selaras dengan visi pemerintah kota untuk menjadikan Kediri sebagai destinasi yang hidup dan berdaya tarik.

“Kami ingin setiap peserta dan pengunjung merasakan sendiri keindahan Kediri—baik dari budaya, kuliner, maupun keramahannya,” ujar Mbak Wali sapaan akrab Vinanda.

Festival ini pun menjadi panggung promosi potensi lokal, mulai dari produk UMKM, kuliner khas Kediri seperti tahu takwa dan gethuk pisang, hingga destinasi wisata seperti Gunung Klotok dan Goa Selomangleng.

Empat Kelas Lomba

  1. Kelas Standar Pabrik
    Ajang pembuktian skill tanpa banyak modifikasi, menonjolkan kemampuan murni pengendara.

  2. Kelas Standar Tune Up
    Menampilkan motor dengan sentuhan performa ekstra tanpa meninggalkan karakter asli Vespa.

  3. Free For All (FFA)
    Kelas paling kompetitif di mana kreativitas dan keberanian peserta diuji hingga batasnya.

  4. Kelas Sespan
    Favorit penonton karena keunikan motor berkereta samping dan aksi atraktif di lintasan.

KSF ke-8 tak hanya menjadi ajang balap. Ia adalah perayaan persaudaraan di antara para pencinta Vespa dari berbagai generasi. Di sela kompetisi, para peserta saling bertukar suku cadang, pengalaman, dan kisah perjalanan.

Bagi banyak scooterist, hadir di KSF bukan soal menang atau kalah, melainkan tentang menjaga warisan budaya otomotif klasik yang telah menyatukan mereka.

Event besar seperti KSF memiliki dampak ekonomi langsung bagi masyarakat lokal. Penginapan penuh, kuliner laris, hingga penjualan suvenir meningkat pesat selama festival berlangsung. Selain itu, acara ini juga memperkuat jaringan antar-komunitas otomotif dan membuka peluang kolaborasi bagi pelaku usaha lokal di sektor kreatif.

Kesuksesan KSF ke-8 tak lepas dari kerja sama apik antara panitia, komunitas scooter Kediri, dan dukungan penuh dari Pemerintah Kota Kediri. Lebih dari sekadar alat transportasi, Vespa bagi komunitasnya adalah simbol gaya hidup, kebebasan, dan loyalitas. Setiap suara mesinnya seperti lagu lama yang menuntun para rider kembali ke akar: cinta pada perjalanan dan kebersamaan.

jurnalis : Bram Radyan
Bagikan Berita :