Mulyani, Kades Sukoanyar (Sigit Cahya Setyawan)

Karnaval Sound Horeg di Mojo, Kades Sukoanyar Bantah Setoran ke Polisi

Bagikan Berita :

KEDIRI – Setelah sempat kesulitan untuk dikonfirmasi dan sempat kembali disanggong di Balai Desa Sukoanyar sejak pagi, akhirnya pada Selasa siang berhasil menemui Kepala Desa Sukoanyar, Kecamatan Mojo, Mulyani di rumahnya. Itu pun setelah menunggu beberapa saat, usai dirinya menerima tamu.

Kepada jurnalis kediritangguh.co, dia membantah keras isu yang beredar, menyebutkan adanya setoran uang puluhan juta kepada Kepolisian untuk izin pelaksanaan karnaval sound horeg “Djan Tresno”. Ia menegaskan kabar tersebut tidak benar dan merupakan fitnah yang merugikan pihaknya.

“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin agar acara berjalan lancar. Kalau ada isu sampai menyebut nominal puluhan juta, itu fitnah dan tidak benar sama sekali,” tegas Mulyani, Selasa (30/9).

Mulyani menjelaskan, pihak desa bersama panitia sudah mengikuti prosedur sesuai surat edaran, termasuk pembatasan waktu acara dari pukul 10.00 hingga 22.00 WIB. Namun, kondisi di lapangan tak terkendali akibat jumlah penonton yang membludak hingga ribuan orang.

“Sejak sore kami sudah mengingatkan peserta dan penonton. Bahkan jam setengah delapan malam pintu utara sudah kami tutup agar tidak ada tambahan penonton karena overload. Tapi karena jumlah penonton sangat banyak dan tensinya tinggi, situasi jadi sulit dikendalikan,” jelasnya.

Menurutnya, panitia hanya berjumlah sekitar 80 orang, dengan 25 orang di sekitar garis finish, sehingga kalah jumlah menghadapi ribuan penonton. Bahkan ada penonton yang sengaja menghalangi laju truk sound agar tidak cepat sampai garis akhir.

Akhirnya, lanjut Mulyani, panitia bersama kepolisian sepakat menghentikan acara. “Mulai pukul 23.30 kendaraan dihentikan suaranya, dan menjelang pukul 00.00 seluruh kegiatan benar-benar selesai. Dari 35 peserta, ada 7–8 yang belum sempat finish,” ujarnya.

Terkait penggunaan jalan protokol, Mulyani mengatakan hal itu sudah dibahas dalam rakor. Desa Sukoanyar hanya memiliki satu akses utama, sementara jalur alternatif melalui empat desa lain dianggap tidak memungkinkan.

“Kalau pakai sistem buka-tutup atau separuh jalan justru menimbulkan kemacetan total. Pertimbangan itu yang akhirnya memutuskan pakai jalur utama,” terangnya.

Mulyani mengaku dirinya sempat dipanggil ke Polres Kediri Kota selama sekitar 10 jam untuk memberikan klarifikasi. Ia menegaskan, jika nantinya ada sanksi, pihaknya akan menerima dengan bijak sepanjang terbukti kesalahan murni ada pada panitia.

“Yang jelas saya sampaikan kondisi di lapangan apa adanya. Harapan saya, ke depan ada evaluasi bersama sehingga acara serupa tetap bisa dilaksanakan dengan lebih tertib, aman, dan tidak melanggar aturan,” pungkasnya.

Bagikan Berita :