Mas Dhito yang juga Ketua Umum Persedikab Kediri (Kominfo)

Inilah Suporter Sejati Dulu Walk Out Saat Persedikab Dianggarkan 4 M, Mas Dhito : Saya Tidak Mau Intervensi

Bagikan Berita :

KEDIRI – Seiring gagalnya Persedikab lolos Liga II dan memenuhi target Juara Liga III, suara santer dari para suporter agar manajemen tim berjuluk Bledug Kelud ini dibuyarkan. Alasannya sederhana, apa ditargetkan Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana tidak terbukti. Anggaran dikucurkan 4 miliar juga tak mampu meraih Juara Liga III Regional Jawa Timur. Bahkan saat Coach Tony Ho menyatakan mengundurkan diri, juga mengindikasikan adanya kurang komunikasi dirinya dengan pihak manajemen.

Dikonfirmasi disela-sela pelepasan tim PBVSI Kabupaten Kediri, Kamis (17/03), untuk mengikuti pra kualifikasi Porprov. Bupati akrab disapa Mas Dhito menyatakan mengembalikan sepenuhnya kepada pihak manajemen. “Terkait manajemen Persedikab, biar manajemen yang melakukan perombakan. Saya tidak mau intervensi terlalu dalam kita tunggu saja,” tegas Mas Dhito yang juga menjabat Ketua Umum Persedikab.

Yang justru menarikan pernyataan seorang suporter Bledug Kelud yang juga anggota DPRD Kabupaten, Taufik Chafifudin. “Saya adalah pendukung Persedikab. Menyoal pertanyaan kepada saya terkait transparansi dan peruntukan anggaran 4 Miliar. Kemudian aksi walk out saat paripurna itu juga dalam kerangka mensupport Persedikab. Agar tidak kemudian anggaran itu ‘salah kamar’. Untuk target juara regional Jatim saja kita gagal kalah dari NZR Sumbersari,” ucapnya dikonfirmasi Kamis siang

Taufik : Persedikab Dibiayai APBD

anggota DPRD Kabupaten, Taufik Chafifudin (istimewa)

Pun demikian politisi senior PPP menyatakan jujur salut atas pernyataan Mas Bup bahwa akan tetap mendukung all out atas Persedikab. “Tapi saya salut dengan statemen Mas Bup, yang akan terus membangun Persedikab. Menjadi tim yang punya kekuatan untuk bersaing lagi, merebut tiket Liga 2 musim depan. Sebenarnya dana 4 Miliar bukan dana yang besar untuk persiapan sebuah klub mengarungi kompetisi Liga 3. Memang, kalau dibanding dengan anggaran tim-tim lain kontestan Liga 3, anggaran dan fasilitas Persedikab jauh lebih unggul,” terangnya.

Sepertinya hal kekecewaan suporter lainnya, Pelatih Kepala Tony Ho dianggap tidak mampu memberikan ilmu kepada talenta muda putra daerah. Bahkan yang kerap terjadi, memainkan anak-anak di luar Kabupaten Kediri. Dibandingkan Persik Kediri saat Juara Liga III, dimana menurunkan sebagian besar pemain lokal Kediri, tentunya ini patut diikuti jejaknya oleh Persedikab.

“Saya hanya ingin tekankan, Persedikab ini dibiayai APBD. Jadi kesempatan untuk putra daerah harusnya sangat terbuka. Kalau secara skill, kualitas berimbang dengan pemain dari luar daerah, kenapa harus menepikan potensi-potensi lokal? Mereka pasti lebih semangat, wani ngéyél, lebih nggetih, dan punya fighting spirit yang lebih, dibanding pemain luar daerah. Karena menyangkut kebanggaan, prestise dan kecintaan pada daerah,” ungkap Taufik.

Belum lagi kejamnya sepak bola di tanah air, dimana kini marak terjadi mafia pertandingan. Banyak pertandingan terasa tidak adil dan seakan dijadikan panggung empuk pada mafia sepak bola. “Terjun di kompetisi nasional katanya dalam tanda kutip, harus siap 4 D, Duit, Dulur, Dukun dan Dukungan,” imbuh anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Kediri juga membidangi olahraga.

Editor : Nanang Priyo Basuki
Bagikan Berita :