KEDIRI — Langkah kecil menuju kemandirian ekonomi umat mulai digerakkan. BAZNAS Kota Kediri bersama BAZNAS RI dan AksesMu menggelar pelatihan bertajuk Latihan Dasar Kelompok (LDK) di Pondok Pesantren Salafiyah, Bandar Kidul, Senin (27/10). Melalui program Z-Mart, para penerima zakat (mustahik) ditempa agar kelak mampu berdiri tegak sebagai pemberi zakat (muzakki).
Wakil Wali Kota Kediri, Qowimuddin Thoha, membuka kegiatan ini dengan semangat penuh apresiasi. Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah, lembaga zakat, dan mitra strategis seperti AksesMu merupakan wujud nyata dari gotong royong dalam menekan angka kemiskinan dan memperkuat sendi ekonomi umat.
“Z-Mart bukan sekadar program bantuan modal. Ini adalah jalan bagi para mustahik untuk naik kelas — dari tangan yang menerima menjadi tangan yang memberi,” ujar Qowimuddin dengan nada optimistis.
Lebih dari sekadar pelatihan bisnis, Z-Mart dirancang sebagai ekosistem pemberdayaan. Para peserta tak hanya dibekali modal, tetapi juga ilmu mengelola warung secara profesional — mulai dari asesmen, bantuan modal, penataan merek, hingga pendampingan usaha berkelanjutan. Harapannya, mereka dapat bertransformasi dari perilaku konsumtif menuju produktif.
“Ketika zakat dikelola dengan penuh tanggung jawab seperti dalam program Z-Mart ini, insyaallah akan tumbuh masyarakat yang kuat, berdaya, dan mandiri,” tambahnya.
Menurut Qowimuddin, ekonomi tidak hanya berbicara soal keuntungan, tetapi juga niat ibadah. Ia berpesan agar setiap peserta menjadikan pelatihan ini sebagai bekal spiritual sekaligus ekonomi — sebuah amal yang menebar manfaat bagi sesama.
Sementara itu, Ketua BAZNAS Kota Kediri, Dawud Syamsuri, mengungkapkan bahwa pelatihan kali ini diikuti oleh 60 peserta yang berasal dari tiga kecamatan: Pesantren, Kota, dan Mojoroto. Masing-masing peserta memperoleh bantuan modal sekitar Rp8 juta, dengan total dukungan dana mencapai Rp480 juta hasil sinergi antara BAZNAS RI dan BAZNAS Kota Kediri.
“Z-Mart hadir untuk menumbuhkan kemandirian. Kami ingin mengubah cara pandang: dari bergantung pada bantuan menjadi percaya pada kemampuan,” tutur Dawud.
Lebih jauh, Dawud menegaskan bahwa program ini bukan proyek jangka pendek. Peserta akan terus didampingi melalui AksesMu (Akselerasi Sukses Mitra Usaha), agar usaha mereka mampu bersaing di tengah derasnya arus minimarket modern.
“BAZNAS tidak hanya menjalankan amanah zakat, tetapi juga menegakkan keadilan ekonomi. Antara mustahik dan muzakki tidak ada jarak, hanya proses menuju kesejahteraan bersama,” ujarnya penuh keyakinan.
Pemerintah Kota Kediri menyambut baik inisiatif ini. Harapannya, dari warung-warung kecil yang tumbuh lewat program Z-Mart, akan lahir gelombang baru pelaku ekonomi mikro yang tangguh. Mereka bukan lagi penerima, melainkan penggerak ekonomi yang menebar manfaat bagi sekitarnya.
Zakat, dalam wujud nyata seperti Z-Mart, menjadi bukti bahwa kesejahteraan bukanlah utopia, melainkan hasil dari sinergi, niat baik, dan kerja keras. Dari mustahik menuju muzakki — dari ketergantungan menuju kemandirian.
Bagikan Berita :








