foto : Sigit Cahya Setyawan

Dalam Keheningan Taman Makam Pahlawan, Wali Kota Kediri : Semangat Juang Itu Masih Bernyawa

Bagikan Berita :

KEDIRI – Pagi itu, udara di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusuma Bangsa terasa berat oleh keheningan. Di antara barisan Forkompimda Plus Kota Kediri yang berdiri khidmat, aroma bunga yang baru ditebarkan menyatu dengan suara tegas namun hangat Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati.
“Perjuangan masa kini adalah bersama membangun daerah!” serunya, menggema di antara nisan-nisan para kusuma bangsa.

Upacara peringatan Hari Pahlawan ke-80 dimulai dari Balai Kota Kediri, lalu berlanjut ke taman makam. Namun bagi Mbak Wali – sapaan akrab Vinanda – ziarah itu bukan sekadar ritual tahunan. Baginya, ini adalah jeda untuk merenung dan menyalakan kembali api juang yang nyaris padam di tengah riuhnya zaman.

“Kalau dulu pahlawan berjuang mengangkat senjata, kini anak muda harus berjuang lewat karya, inovasi, dan pengabdian. Teruslah belajar, teruslah berkarya,” ujarnya, suaranya lembut tapi menggetarkan.

Sebagai wali kota termuda di Indonesia, Vinanda tahu bahwa medan juang masa kini tak lagi diwarnai dentuman meriam. Pertempuran kini adalah melawan ketertinggalan, menghadapi derasnya arus digitalisasi, dan menyiasati perubahan iklim yang kian nyata. Namun satu hal yang tak berubah: semangat kepahlawanan tetap menjadi bahan bakar perubahan.

“Pahlawan hari ini bukan mereka yang berperang di garis depan, tapi mereka yang menghadirkan solusi, yang terus bergerak, belajar, dan memberi manfaat bagi sesama,” tuturnya mantap.

Ia kemudian mengajak generasi muda Kediri untuk meneladani para pahlawan lewat lima semangat pembangunan Kota Kediri: Maju, Agamis, Produktif, Aman, dan Ngangeni.
“Perjuangan hari ini,” lanjutnya, “adalah membangun pendidikan yang unggul, ekonomi yang kreatif, birokrasi yang bersih, serta kota yang nyaman dan ramah.”

Di akhir upacara, prosesi tabur bunga berlangsung khidmat. Deretan TNI-Polri, ASN, pelajar, hingga masyarakat menundukkan kepala, mengirimkan doa yang sama: semoga semangat para pahlawan tak berhenti di batu nisan, tapi tumbuh di dada setiap anak bangsa.

Dan di antara gemericik langkah dan bisikan doa itu, suara hati kota Kediri bergema pelan —
bahwa menjadi pahlawan tak harus memegang senjata, cukup terus berbuat nyata.

jurnalis : Sigit Cahya Setyawan
Bagikan Berita :