KEDIRI – Banjir kembali menyapa Dusun Putat, RW 1 RT 2, Desa Manyaran Kecamatan Banyakan, pada Minggu (16/11) malam. Luapan air dari persawahan tak lagi menemukan jalurnya, hingga akhirnya membelok ke permukiman. Warga menduga perubahan aliran air akibat proyek tol yang lebih tinggi dari kontur tanah sekitar telah menjadi pemicu utama.
Di antara warga yang merasakan langsung derasnya arus, Sumarsih menjadi saksi betapa cepat air menerjang dari arah sawah. Ia menceritakan bagaimana aliran itu menyerbu jalan kampung dan mencapai teras rumahnya dalam waktu singkat.
“Airnya dari luapan sawah. Karena ada tol yang lebih tinggi, biasanya air bisa lari ke sungai dekat proyek, tapi sekarang tidak bisa, jadi masuk kampung,” tuturnya, Senin (17/11).
Menurutnya, genangan mulai naik sekitar pukul 18.30 dan tak kunjung turun hingga jelang pukul 22.00. Ketika air surut, lumpur tipis menyelimuti sejumlah rumah, meninggalkan jejak gangguan yang tak pernah diundang. Wilayah itu memang tak asing dengan banjir, namun kejadian kali ini terasa lebih besar dan lebih cepat.
Nada serupa datang dari Anik. Baginya, persoalan yang terjadi bukan hanya soal tingginya air, tetapi juga frekuensi banjir yang kian sering. Dalam beberapa pekan terakhir, kata Anik, air seperti semakin mudah masuk ke wilayah mereka.
“Dua kali ini parah terus. Yang Oktober lalu sekitar tanggal 21, dan semalam air datang tiba-tiba setelah Magrib, langsung deras dan masuk rumah-rumah,” ujarnya.
Anik menjelaskan ketinggian air berbeda-beda di tiap titik. Di rumahnya hanya setinggi lutut, tetapi di daerah yang lebih rendah, genangan bisa menyentuh pinggang orang dewasa. Penyempitan jalur pembuangan air membuat luapan sawah tak lagi bisa mengalir mulus ke sungai seperti biasanya.
“Harapan saya, akses air ke sungai segera dibenahi. Jangan menunggu proyek selesai. Jangan sampai banjir terus berulang dan merugikan warga,” tegasnya.
Meski tidak ada korban jiwa maupun kerusakan besar, warga Manyaran berharap penataan aliran air menjadi prioritas. Kekhawatiran terus menghantui: jika aliran tak segera dibuka, hujan berikutnya bisa membawa cerita yang sama—atau lebih buruk.









