KEDIRI — Lahan seluas sekitar 1.740 meter persegi di Kelurahan Bandar Lor, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, tengah disiapkan menjadi kawasan pengolahan sampah terpadu. Bukan sekadar tempat memilah dan mengolah limbah, kawasan tersebut dirancang sebagai Taman Edukasi Pengolahan Limbah Organik dan Anorganik Terpadu dengan konsep “Belajar, Mengolah, dan Menghasilkan”.
Penyiapan kawasan mulai dilakukan melalui kerja bakti dan sosialisasi pengelolaan sampah pada Minggu (4/10). Lahan berukuran sekitar 60 meter x 29 meter itu sebelumnya dinilai kurang terkelola.
Kini, kawasan tersebut mulai ditata untuk mewujudkan ruang pengolahan sampah sekaligus pusat edukasi dan aktivitas masyarakat.
Sejumlah elemen masyarakat dan pemerintah terlibat dalam proses tersebut, mulai dari pengurus RT dan RW, Karang Taruna, PKK, Forum Anak, pemerintah kelurahan hingga Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri.
Gagasan pengembangan kawasan tersebut datang dari Anggota DPRD Kota Kediri dari Partai Golkar sekaligus Ketua Bank Sampah Sumber Rejeki Kelurahan Bandar Lor, Andayani Nurhidayati.
Menurut Andayani, lahan tersebut akan diarahkan menjadi kawasan produktif. Pengolahan sampah menjadi kegiatan utama, sementara kawasan taman edukasi diharapkan menjadi sarana masyarakat untuk belajar sekaligus mengembangkan berbagai produk bernilai guna.
Rancangan awal kawasan mencakup sekitar 25 titik yang terbagi ke dalam sejumlah fungsi. Di antaranya fasilitas operasional, ruang edukasi dan kreativitas, area pengolahan limbah, sektor pertanian dan perikanan, fasilitas umum, ruang terbuka hijau serta area parkir.
Sejumlah fasilitas pengolahan juga telah masuk dalam rancangan. Mulai dari kantor, ruang edukasi dan ruang hasil kreasi, laboratorium BSF, area maggot, ruang fermentasi, ruang pemilahan sampah organik, fasilitas pirolisis hingga area produksi paving block dan filamen.
Tidak berhenti pada pengolahan sampah, kawasan tersebut juga akan terintegrasi dengan kegiatan budidaya.
Andayani menyebut area itu nantinya dirancang untuk budidaya ikan lele, patin dan belut, serta pengembangan hidroponik, akuaponik dan pertanian organik.
Fasilitas pendukung juga disiapkan, antara lain warung organik, taman hijau, taman selfie, area parkir serta akses keluar-masuk kawasan.
Konsep tersebut sengaja dikembangkan agar masyarakat tidak memandang kawasan itu semata sebagai tempat pengolahan sampah.
“Ini bukan sekadar pengolahan sampah karena konotasi orang kalau sudah bicara sampah itu menjijikkan. Makanya kita kemas atau kita desain kawasan ini sebagai taman edukasi mulai dari depan hingga hasil akhir semua hasil pengolahan,” kata Andayani.
Nantinya, kawasan tersebut juga diarahkan memiliki kafe atau warung yang menyediakan menu dari hasil budidaya. Selain itu, akan disiapkan gerai untuk memasarkan berbagai produk hasil kreativitas pengolahan sampah.
Sampah Diolah dari Rumah
Pengelolaan kawasan akan berada di bawah Bank Sampah Sumber Rejeki yang merupakan Bank Sampah Induk Kelurahan Bandar Lor.
Saat ini, Bank Sampah Sumber Rejeki telah memiliki empat bank sampah binaan yang tersebar di empat RW. Jaringan tersebut akan terus diperkuat, termasuk mendorong RW yang belum memiliki bank sampah agar segera membentuk dan mengembangkannya.
Fasilitasi yang diberikan mencakup edukasi, administrasi hingga persiapan pengelolaan bank sampah.
Bersamaan dengan itu, pengelolaan sampah juga akan didorong dimulai dari sumbernya, yakni rumah tangga.
Andayani telah berkoordinasi dengan DLHKP untuk menangani sampah yang menumpuk di TPS. Material plastik yang masih memiliki nilai guna juga akan diambil kembali agar dapat dikelola secara lebih profesional.
Untuk sampah organik, rencananya akan dibentuk satuan tugas di tingkat RT atau RW. Tim tersebut akan mengambil sampah organik dari rumah warga untuk segera diolah sehingga tidak sempat membusuk.
Salah satu pemanfaatannya adalah sebagai pakan maggot.
“Sampah organik ini nanti kita jadikan pakan maggot. Maggotnya akan kita gunakan untuk makanan ikan, seperti lele, belut, dan patin. Insyaallah juga untuk ayam Elba dan kambing,” ujar Andayani.
Sementara itu, sampah anorganik juga diarahkan agar tidak berakhir begitu saja di tempat pembuangan.
Sebagian material akan dikembangkan menjadi produk bernilai guna, termasuk bahan bakar seperti solar dan minyak bakar. Material yang tidak dapat diuraikan juga direncanakan untuk dimanfaatkan menjadi produk lain, seperti paving block dan bata ringan.
Pengembangan berbagai produk tersebut akan dilakukan secara bertahap dengan melibatkan sejumlah pihak.
Belum Ada Anggaran Khusus
Andayani mengakui proses penyiapan kawasan masih berlangsung. Hingga kini, pengembangan taman edukasi tersebut belum memiliki anggaran khusus.
Karena itu, pembangunan kawasan diupayakan melalui kolaborasi dan dukungan berbagai pihak, termasuk masyarakat.
Menurutnya, pembangunan sarana fisik saja tidak cukup. Perubahan kebiasaan masyarakat dalam memilah sampah dari rumah juga menjadi faktor penting.
Sosialisasi pun akan dilakukan secara berkelanjutan agar pemilahan sampah menjadi kebiasaan warga.
“Tentunya tidak bisa semudah membalikkan telapak tangan. Kita harus terus-menerus secara periodik dan tidak henti-hentinya memberikan sosialisasi kepada masyarakat,” katanya.
Selain persoalan kebiasaan, pengembangan sampah menjadi bahan bakar juga membutuhkan dukungan regulasi. Hal tersebut diperlukan agar produk yang dihasilkan nantinya dapat didistribusikan.
Untuk memperkuat aspek ekonomi, Andayani juga menyiapkan koperasi yang nantinya dapat dikembangkan menjadi badan usaha. Lembaga tersebut diharapkan dapat membantu pemasaran produk hasil pengolahan sampah.
Saat ini, Bank Sampah Sumber Rejeki telah menerima sampah warga dua kali dalam sepekan untuk kemudian dipilah dan diolah.
DLHKP Dorong Jadi Percontohan
Rencana pengembangan taman edukasi tersebut mendapat dukungan Pemerintah Kota Kediri melalui DLHKP.
Kepala DLHKP Kota Kediri Drs. Hery Purnomo mengatakan pihaknya siap mendukung pengembangan kawasan tersebut. Ia berharap konsep yang dibangun di Bandar Lor dapat menjadi pionir sekaligus percontohan pengelolaan sampah di Kota Kediri.
“Ini menjadi pionir pertama di Kota Kediri. Nanti kita lakukan bersama-sama, siapa tahu ke depan betul-betul bisa menjadi pilot project sekaligus percontohan,” kata Hery.
Menurut Hery, perubahan sistem pengelolaan sampah harus dimulai dari rumah. Masyarakat akan diarahkan untuk memilah sampah organik dan nonorganik sebelum dibawa ke TPS.
Bahkan, jasa angkut sampah nantinya diharapkan hanya membawa sampah yang sudah dipilah.
“Jadi nanti misalnya tukang jasa angkut itu membawa ke TPS, enggak dipilah, tidak saya terima, saya kembalikan,” ujarnya.
Kebijakan tersebut tengah dikaji, termasuk kemungkinan penerapan jadwal pembuangan berdasarkan jenis sampah. Sampah organik dan nonorganik, misalnya, dapat memiliki jadwal pembuangan yang berbeda.
Langkah itu dinilai penting untuk mengurangi beban tempat pemrosesan akhir (TPA) yang semakin penuh.
Hery juga menilai pengelolaan sampah tidak harus selalu menggunakan teknologi rumit atau membutuhkan anggaran besar. Peralatan sederhana dapat dikembangkan agar mudah dirawat sekaligus digunakan masyarakat.
Sampah organik dapat dimanfaatkan menjadi kompos atau pakan maggot, sementara sampah plastik berpotensi diolah kembali menjadi material seperti resin.
Menuju Kediri Bebas Sampah
DLHKP juga mendorong pemanfaatan lahan aset pemerintah kelurahan untuk mendukung pengembangan kawasan. Sarana dan peralatan akan disesuaikan dengan potensi pengolahan yang tersedia di lokasi.
Di sisi lain, sosialisasi pemilahan sampah dari rumah akan terus dilakukan. Pemerintah masih mengkaji sekaligus memitigasi berbagai risiko sebelum kebijakan pengelolaan tersebut diterapkan secara lebih luas.
Jika berjalan sesuai rencana, taman edukasi di Bandar Lor tidak hanya menjadi tempat pengolahan sampah.
Kawasan tersebut diharapkan menjadi ruang belajar bagi masyarakat mengenai bagaimana sampah dipilah, diolah, dimanfaatkan hingga menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi.
Dari Bandar Lor, perubahan pola pengelolaan sampah diharapkan dapat berkembang menjadi gerakan bersama di tingkat masyarakat.
Dengan begitu, sampah tidak lagi hanya dipandang sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas ekonomi sekaligus mendorong terwujudnya Kediri bebas sampah.
Jurnalis: Anisa Fadila



