Pelatih Persik Marcos Reina Torres Kecewa, Anak Asuhnya Dinilai Layak Menang

Bagikan Berita :

KEDIRI – Persik Kediri harus menerima kenyataan berbagi poin setelah bermain imbang 2-2 melawan PSIM Yogyakarta pada lanjutan Super League pekan ke-21 di Stadion Gelora Joko Samudro, Jumat (13/2/2026).

Bermain dengan intensitas tinggi sejak awal, Macan Putih tampil dominan dan berulang kali membongkar pertahanan lawan. Serangan demi serangan dibangun dengan rapi, peluang emas pun tercipta.

Namun, sepak bola kerap ditentukan oleh detail—dan kali ini detail kecil menjadi pembeda. Keberuntungan belum sepenuhnya berpihak.

Dua kans terbaik melalui Ernesto Gomez dan Rodrigo Dias hanya berakhir di mistar gawang. Bola yang seharusnya menggetarkan jala justru memantul kembali ke lapangan.

Di sisi lain, Jon Toral yang tampil impresif dan menyumbang satu gol juga beberapa kali menghadirkan ancaman nyata, meski belum mampu menambah keunggulan.

Pelatih Persik, Marcos Reina Torres, tak menutupi rasa kecewanya. Ia menilai timnya tampil lebih baik dan pantas membawa pulang tiga poin.

“Kami tidak puas. Secara permainan kami lebih unggul dan menciptakan peluang terbaik. Seharusnya kemenangan menjadi milik kami. Namun kesalahan kecil membuat kami kehilangan dua poin,” ujarnya usai laga.

Meski demikian, ia melihat adanya perkembangan signifikan dalam performa tim. Proses pembangunan yang tengah dijalani—dengan komposisi banyak pemain baru—mulai menunjukkan arah yang jelas.

“Banyak sisi positif. Permainan tim sangat baik. Kami masih dalam fase membangun fondasi, dan setiap pekan progres itu terlihat,” tambahnya.

Keputusan untuk tidak banyak melakukan rotasi juga menjadi sorotan. Marcos menegaskan, komposisi pemain di lapangan masih ia yakini mampu mencetak gol tambahan.

“Saya percaya gol ketiga bisa tercipta dengan pemain yang ada. Sayangnya, peluang yang muncul belum mampu kami maksimalkan,” tegasnya.

Sementara itu, Jon Toral menegaskan tim tidak ingin larut dalam kekecewaan. Baginya, satu poin tetap bernilai dalam perjalanan panjang kompetisi.

“Kami tentu mengincar kemenangan. Namun ketika tiga poin tak bisa diraih, setidaknya kami tidak pulang dengan kekalahan. Poin ini akan menjadi pijakan untuk laga berikutnya,” katanya.

Hasil imbang ini menjadi pengingat bahwa dominasi permainan harus sejalan dengan ketajaman penyelesaian akhir. Persik kini dituntut lebih efektif di depan gawang agar setiap peluang tak lagi terbuang sia-sia.

Dalam kompetisi yang ketat, selisih tipis antara menang dan imbang sering kali ditentukan oleh ketenangan pada momen krusial.

Macan Putih telah menunjukkan karakter dan progres. Kini, yang dibutuhkan adalah ketajaman—agar kerja keras tak berhenti sebagai cerita tentang peluang, melainkan berakhir sebagai kemenangan.

Bagikan Berita :