KEDIRI – Keterbatasan lahan tak menjadi penghalang bagi SMKN 1 Semen untuk berinovasi. Melalui konsep tanaman asuh berbasis budidaya cabe Jawa, sekolah ini menggulirkan Program SIKAP sebagai media pembelajaran produktif yang melibatkan seluruh warga sekolah.
Program tersebut dirancang tidak hanya untuk mendukung ketahanan pangan, tetapi juga menanamkan jiwa kewirausahaan kepada siswa melalui pengelolaan tanaman herbal bernilai ekonomi tinggi.
Kepala SMKN 1 Semen, Muhammad Darusalam, menjelaskan bahwa pemilihan cabe Jawa sebagai komoditas utama bukan tanpa alasan. Selain merupakan tanaman asli Indonesia, cabe Jawa memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan dan relatif mudah dirawat.
“Tanaman ini tahan panas, sesuai dengan kondisi iklim di sini. Perawatannya juga tidak sulit, dan sekali tanam bisa panen hingga 10 tahun jika dirawat dengan baik,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (13/2).
Dengan memanfaatkan lahan terbatas, tanaman cabe Jawa ditanam dalam polybag yang disusun rapi di sepanjang tembok belakang sekolah sepanjang kurang lebih 45 meter. Tanaman tersebut dirambatkan menggunakan para-para hingga mencapai ketinggian lima meter. Selain berfungsi sebagai peneduh alami yang meredam panas, tanaman rambat ini juga mempercantik lingkungan sekolah saat mulai tumbuh lebat dan berbuah.
Melalui sistem ini, sekolah menargetkan produksi sekitar 50 kilogram cabe Jawa mentah setiap kali panen.
Perawatan dilakukan secara terjadwal dan melibatkan guru, siswa, hingga tenaga kependidikan. Kegiatan ini menjadi rutinitas harian, mingguan, dan bulanan. Menariknya, perawatan tanaman juga dijadikan sebagai bentuk pembinaan bagi siswa yang terlambat datang ke sekolah.
“Ini bukan sekadar punishment, tetapi pembinaan. Kami ingin menumbuhkan kedisiplinan, karakter, dan rasa tanggung jawab siswa,” tegas Darusalam.
Dibekali Budidaya

Sejak awal, siswa dibekali pengetahuan teknis tentang budidaya, mulai dari penanaman, pemupukan rutin, hingga pengendalian gulma. Dalam waktu sekitar tiga bulan, tanaman sudah mulai bisa dipanen, baik buah maupun bibitnya.
Bibit cabe Jawa diperoleh dari tunas yang muncul saat tanaman menjalar. Bibit tersebut memiliki nilai jual antara Rp5.000 hingga Rp12.000 per batang.
“Bibit akan dibagikan kepada guru dan siswa untuk dirawat di rumah masing-masing. Dengan begitu, meski lahan sekolah terbatas, pengembangan tetap berjalan. Hasilnya nanti bisa disetorkan kembali ke sekolah,” jelasnya.
Program SIKAP juga terintegrasi dalam kegiatan kokurikuler, termasuk pelaporan dan dokumentasi perkembangan tanaman asuh. Ke depan, hasil panen tidak hanya dipasarkan dalam bentuk mentah. Sekolah telah merancang pengembangan produk turunan, seperti cabe Jawa kering, serbuk cabe Jawa, minuman herbal bertajuk “Semen Java Drink”, hingga ramuan penambah stamina. Bahkan, konsep paket tanaman hias produktif pun tengah disiapkan.
Salah satu siswa kelas XI Akuntansi, Zahra Melani Putri, mengaku antusias mengikuti program tersebut. Menurutnya, pengalaman langsung menanam dan merawat tanaman membuka wawasan baru tentang peluang usaha.
“Nanti kalau sudah panen, saya bisa belajar bagaimana cara mengolah dan memasarkannya,” ujarnya.
Melalui Program SIKAP berbasis tanaman asuh cabe Jawa ini, SMKN 1 Semen berharap dapat melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mandiri dan berjiwa wirausaha. Keterbatasan lahan pun disulap menjadi ruang belajar produktif yang menumbuhkan inovasi, karakter, dan semangat kewirausahaan di kalangan siswa.
Bagikan Berita :








