foto : Anisa Fadila

Taman Ramah Hadir di Campurejo, Dorong Hidup Sehat dan Sanitasi Aman

Bagikan Berita :

KEDIRI — Kelurahan Campurejo kini memiliki ikon baru melalui kehadiran Taman Ramah, sebuah kawasan yang mengintegrasikan fungsi sanitasi, edukasi, dan rekreasi. Area Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) yang sebelumnya identik dengan pengolahan limbah, kini dikembangkan menjadi ruang publik yang ramah bagi masyarakat. Pengenalan Taman Ramah dirangkai dengan kegiatan senam bersama, Jumat (30/1), sebagai upaya mendorong pola hidup sehat sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan.

Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati menyampaikan bahwa Taman Ramah tidak hanya berfungsi sebagai ruang terbuka hijau, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bagi masyarakat, khususnya terkait sanitasi dan kesehatan lingkungan.

“Keberadaan Taman Ramah yang berdampingan dengan IPLT ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai taman rekreasi sekaligus taman edukasi. Anak-anak hingga masyarakat umum dapat mengenal proses pengolahan limbah dan memahami peran IPLT dalam mendukung sanitasi serta kesehatan warga,” ujar Wali Kota yang akrab disapa Mbak Wali.

Menurutnya, keberhasilan konsep taman edukasi ini sangat bergantung pada peran aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan, ketertiban, dan keindahan kawasan. Pengelolaan sampah yang tepat dinilai menjadi kunci agar Taman Ramah dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Kediri, Ir. Endang Kartika Sari, menjelaskan bahwa Taman Ramah dirancang sebagai fasilitas pendukung IPLT yang juga dapat digunakan masyarakat untuk berbagai aktivitas, mulai dari olahraga hingga rekreasi keluarga.

“Taman Ramah merupakan salah satu fasilitas yang terintegrasi dengan IPLT. Selain menjalankan fungsi pengolahan lumpur tinja, IPLT juga berperan sebagai sarana edukasi agar masyarakat memahami pentingnya sanitasi aman, mulai dari hulu hingga hilir,” jelas Endang.

Ia menambahkan, tangki septik rumah tangga idealnya disedot secara berkala setiap tiga hingga lima tahun untuk mencegah kebocoran yang berpotensi mencemari air tanah. Saat ini, kapasitas pengolahan IPLT mencapai 15 meter kubik per hari dan ke depan direncanakan akan dikembangkan dengan penambahan unit pengolahan.

Operasional IPLT dijadwalkan mulai berjalan pada bulan Maret dengan tarif pengelolaan sebesar Rp35.000 per meter kubik. Tarif tersebut dinilai lebih terjangkau dibandingkan layanan sedot tinja swasta, sehingga diharapkan dapat mendorong masyarakat menggunakan layanan resmi yang aman dan sesuai standar sanitasi.

“Lumpur tinja yang telah diolah akan menghasilkan pupuk, namun penggunaannya dibatasi hanya untuk tanaman non-pangan atau tanaman tahunan, seperti hutan jati, dan prosesnya diawasi secara ketat. Yang diolah hanya limbah black water dari toilet, tidak diperkenankan tercampur dengan sampah maupun limbah grey water,” tegasnya.

Melalui pengenalan Taman Ramah ini, Pemerintah Kota Kediri berharap masyarakat tidak hanya memperoleh ruang rekreasi yang nyaman, tetapi juga pemahaman yang lebih baik mengenai pentingnya sanitasi aman dan pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.

jurnalis : Anisa Fadila
Bagikan Berita :