foto : Anisa Fadila

Harga Gabah Naik, Mbak Wali Dorong Petani Beralih ke Tanam Padi

Bagikan Berita :

KEDIRI — Pemerintah Kota Kediri mulai memprioritaskan padi sebagai komoditas utama pertanian guna memperkuat ketahanan pangan daerah. Kebijakan ini didorong oleh turunnya harga pupuk serta meningkatnya harga gabah yang dinilai membuat budidaya padi semakin menjanjikan bagi petani.

Arah kebijakan tersebut disampaikan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kota Kediri usai mengikuti kegiatan Panen Raya dan pengumuman swasembada pangan nasional secara daring bersama Presiden RI, yang berlangsung di Omah Sawah, Rabu (7/1).

Kegiatan tersebut turut dihadiri Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati, Wakil Wali Kota Qowimuddin Thoha, jajaran Forkopimda, organisasi perangkat daerah, serta sejumlah tamu undangan. Melalui konferensi video, peserta mendengarkan arahan Presiden dan Menteri Pertanian terkait upaya peningkatan produksi pangan nasional serta pentingnya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam menjaga stabilitas pasokan.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kota Kediri, Ir. Un Achmad Nurdin, MM, menjelaskan bahwa waktu panen padi di Kota Kediri berbeda dengan beberapa daerah lain. Saat sebagian wilayah memasuki panen raya, Kota Kediri justru baru akan memulai masa panen pada Maret hingga April.

“Karena siklus panennya berbeda, pelaksanaan panen nasional memang perlu disesuaikan dengan kondisi di daerah,” ujarnya.

Ia menyebutkan, sektor pertanian di Kota Kediri selama ini relatif stabil meskipun padi belum menjadi komoditas dominan. Lahan pertanian masih didominasi tanaman tebu, disusul padi, jagung, serta komoditas lainnya. Namun, pada tahun ini pemerintah daerah menargetkan peningkatan luas tanam padi seiring membaiknya harga dan dukungan kebijakan dari pemerintah pusat.

“Harga pupuk kini lebih terjangkau, sementara harga gabah kering sawah naik hingga sekitar Rp6.500 per kilogram. Kondisi ini membuat padi mulai dilirik petani sebagai komoditas yang lebih menguntungkan,” jelasnya.

Seiring tren tersebut, para penyuluh pertanian aktif mendorong petani untuk memaksimalkan lahan yang berpotensi ditanami padi. Dengan pengelolaan yang lebih intensif, peluang peningkatan produksi dinilai masih terbuka lebar dibandingkan capaian sebelumnya.

Menurut Nurdin, target hasil panen yang realistis berada di kisaran 7 ton per hektare. Target tersebut dapat dicapai melalui tata kelola yang tepat, mulai dari penggunaan benih unggul, sistem tanam yang benar, pemupukan berimbang, hingga pengendalian hama yang efektif.

Salah satu metode yang kini terus disosialisasikan adalah sistem tanam jajar legowo. Metode ini memberikan ruang antar tanaman yang lebih optimal sehingga sinar matahari dapat tersebar merata dan berdampak positif pada produktivitas.

“Secara hasil penelitian, jajar legowo terbukti meningkatkan produksi. Tantangannya, sebagian petani masih merasa jarak tanamnya terlalu renggang, padahal produktivitasnya justru lebih tinggi,” tambahnya.

Meski demikian, ia mengakui bahwa produksi beras Kota Kediri saat ini belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan daerah secara mandiri. Namun, sebagai wilayah transit yang dikelilingi sentra produksi padi seperti Kabupaten Kediri, Nganjuk, dan Ngawi, ketersediaan beras dinilai tetap aman melalui mekanisme pasar.

Pemerintah daerah pun mengajak petani memanfaatkan momentum kebijakan dan harga yang berpihak pada sektor pertanian. Di sisi lain, masyarakat juga diimbau untuk menggunakan beras secara bijak sebagai bagian dari upaya bersama memperkuat ketahanan pangan.

Bagikan Berita :