Kondisi air Sungai Kedak diduga tercemar (Anisa Fadila)

Forum Kali Brantas Menduga Aliran Sungai Kedak Tercemar Limbah Rumah Tangga, Fosfat Melejit di Atas Batas Aman, DLHKP dan Satreskrim Bakal Turun

Bagikan Berita :

Kisah Sungai Kedak bukan sekadar cerita tentang air yang tercemar, tapi juga tentang tanggung jawab bersama—antara masyarakat, pemerintah, dan waktu yang terus berjalan. Sebab jika sungai kehilangan jernihnya, maka yang keruh bukan hanya airnya, tapi juga nurani kita

KEDIRI – Arus tenang Sungai Kedak melintasi Kelurahan Bujel, Kecamatan Mojoroto, tampaknya tengah menyimpan kegelisahan. Di balik gemericik air yang mengalir menuju Sungai Brantas, ditemukan tanda-tanda bahwa sungai itu tak lagi sebersih dulu. Forum Kali Brantas mencatat, kadar fosfat di perairan tersebut kini melonjak jauh di atas ambang batas aman—sebuah sinyal kuat bahwa pencemaran sedang berlangsung.

Pantauan pada Sabtu (11/10) menunjukkan lonjakan kadar fosfat hingga 5 ppm, padahal baku mutu air hanya 0,2 ppm. Angka itu menandakan zat pencemar telah menguasai aliran yang seharusnya menjadi urat nadi kehidupan warga sekitar.

Pemerintah Kota Kediri, melalui Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan (DLHKP), langsung turun tangan. Kepala DLHKP, Indun Munawaroh, menjelaskan bahwa pihaknya akan menelusuri sumber pencemaran secara menyeluruh. Meski banyak spekulasi muncul di media sosial, Indun menegaskan, dugaan sementara menunjukkan penyebabnya bukan industri besar, melainkan aktivitas rumah tangga yang luput dari perhatian.

“Dari pengamatan awal, kemungkinan besar pencemaran berasal dari limbah domestik—air bekas deterjen, cucian piring, atau pakaian yang langsung mengalir ke sungai tanpa pengolahan,” ujarnya saat dikonfirmasi pada Senin (13/10).

Sementara itu, Koordinator Forum Kali Brantas, Chandra Iman Asrori, menjelaskan bahwa pengukuran kualitas air dilakukan berdasarkan standar PP Nomor 22 Tahun 2001 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Sejumlah parameter diperiksa, mulai dari tingkat keasaman (pH), kadar padatan terlarut (TDS), nitrat, nitrit, hingga fosfat.

“Hasilnya memang cukup mengkhawatirkan. Jika limbah dari berbagai titik terus mengalir ke Brantas, dampaknya tak hanya terasa di Kediri, tapi juga sampai ke hilir—Surabaya, misalnya, yang kerap mengalami kematian ikan massal,” ujar Chandra.

Hasil pemantauan menunjukkan pH air Sungai Kedak masih netral di angka 7,55 dan TDS sebesar 420 ppm/liter—masih tergolong aman. Suhu air pun normal di 29,4 derajat Celsius. Namun, kadar fosfat yang melesat tinggi menjadi bendera merah bagi kesehatan ekosistem sungai.

Di lapangan, tim pemantau juga menemukan pemandangan yang mencengangkan: karung-karung berisi sampah dan bangkai di bantaran sungai, serta aliran cairan berbusa berbau menyengat yang muncul dari bawah gorong-gorong. Bau itu—menyusup ke udara—menjadi saksi bisu dari apa yang tengah terjadi di bawah permukaan.

Menurut Chandra, kondisi Sungai Kedak bukan hal baru. Warga sudah berulang kali melapor sejak tahun lalu, namun belum ada perubahan berarti. “Laporan sudah kami sampaikan berkali-kali, tapi sungai ini masih tercemar hingga kini,” ujarnya lirih.

Forum Kali Brantas mendesak pemerintah untuk bergerak lebih cepat. Selain menelusuri sumber pencemaran, perlu juga pengawasan ketat terhadap aktivitas industri dan rumah tangga yang berpotensi mencemari lingkungan.

Fenomena serupa ternyata juga terlihat di anak-anak sungai lain di Kota Kediri. Dari limbah cucian, kotoran ternak, hingga popok sekali pakai—semuanya turut memberi warna kelam pada aliran air. Saat musim kemarau datang, debit air menipis, dan segala polutan yang biasanya tersamarkan kini tampak jelas di mata siapa pun yang melintas.

Di sisi lain, Kasat Reskrim Polres Kediri Kota, AKP Cipto Dwi Leksana, memastikan pihaknya akan menindaklanjuti temuan tersebut. “Kami akan melakukan pengecekan di lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya,” katanya.

Kini, Sungai Kedak seolah berbicara lewat keheningannya. Ia mengalir pelan membawa pesan yang jelas: alam sedang meminta perhatian. Jika tak segera ditangani, arus kecil itu bisa menjadi cermin dari krisis yang lebih besar—tentang bagaimana manusia memperlakukan sumber kehidupan yang selama ini mereka anggap sepele.

jurnalis : Anisa Fadila
Bagikan Berita :