KEDIRI – Senin pagi yang hening namun penuh harapan, langkah para siswa Sekolah Rakyat (SR) diiringi semangat yang membuncah. Mereka menyambut hari istimewa di Balai Pelatihan Kesejahteraan Sosial Nasional (BPKASN), tempat belajar sementara bagi SRMA 24 Kediri.
Di tengah senyum anak-anak dan tatapan penuh harap para orang tua, hadir sosok pemimpin muda yang tak hanya datang membawa janji, tapi juga hadir dengan empati: Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana atau yang akrab disapa Mas Dhito.
Mas Dhito menyapa siswa, memantau pemeriksaan kesehatan, dan berdialog dengan penuh kedekatan. Di sela kegiatan, ia menegaskan komitmennya dalam mendukung penuh program prioritas Presiden RI Prabowo Subianto, yakni Sekolah Rakyatsebuah inisiatif yang menempatkan pendidikan sebagai tonggak keadilan sosial.
“Gedung permanennya sedang dibangun. InsyaAllah, Juli atau Agustus tahun depan sudah bisa digunakan,” tutur Mas Dhito, penuh optimisme, Senin (14/07)
Namun lebih dari sekadar bangunan fisik, ia menekankan pentingnya membangun lingkungan belajar yang aman, sehat, dan beretika. Ia menyuarakan pentingnya pendidikan seks usia dini, meski sering kali dianggap tabu, serta memerangi perundungan dan pergaulan bebas yang dapat merusak masa depan anak-anak.
“Saya hanya punya satu pesan untuk anak-anak: belajarlah dengan sungguh-sungguh, agar kalian bisa mengangkat derajat keluarga dan membanggakan negeri ini,” ucapnya menyentuh.
Kehidupan Berasrama

Hari itu, seluruh siswa menjalani pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh. Status gizi, tekanan dan gula darah, hingga deteksi dini penyakit seperti TBC, anemia, scabies, dan kesehatan reproduksi diperiksa dengan seksama. Semuanya dilakukan demi memastikan bahwa mereka siap menempuh kehidupan asrama yang akan dimulai usai Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Kepala Sekolah SRMA 24, Fadeli, menjelaskan bahwa pemeriksaan ini bukan hanya protokol, tapi langkah perlindungan. “Kami ingin anak-anak masuk dalam kondisi terbaik, karena mereka akan hidup bersama dalam satu atap,” katanya.
Sebanyak 100 siswa terpilih menjadi angkatan pertama—40 laki-laki dan 60 perempuan—semuanya berasal dari keluarga kurang mampu, masuk dalam kategori desil 1 Data Terpadu Kesejahteraan Sosial Nasional (DTKSN). Proses seleksi dilakukan ketat dan mendalam.
Plt. Kepala Dinas Sosial Kabupaten Kediri, Ariyanto, menegaskan bahwa verifikasi dilakukan langsung ke rumah calon siswa. “Kami ingin memastikan bahwa yang menerima manfaat ini memang yang paling membutuhkan dan siap menjalani kehidupan berasrama,” ujarnya.
Dukungan tak berhenti di awal. Dinas Kesehatan akan melakukan pemantauan rutin. Setiap Jumat, siswa putri akan menerima suplemen penambah darah—sebuah langkah kecil namun berarti untuk melindungi mereka dari anemia yang sering mengintai.
Dari barisan orang tua, terdengar suara penuh haru. Biron, salah satu wali murid, tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. “Anak saya bisa sekolah di sini, fasilitasnya bagus, prosesnya juga mudah. Semoga lancar sampai lulus nanti,” ucapnya sambil menatap anaknya dengan mata berkaca.
MPLS pun resmi dibuka secara nasional melalui Zoom bersama Menteri terkait, menandai dimulainya babak baru dalam perjalanan pendidikan anak-anak ini. Sambil menunggu rampungnya gedung permanen di atas lahan 7,6 hektare, mereka akan belajar dan tinggal di tempat sementara dengan semangat yang sama besarnya.
Sekolah Rakyat bukan hanya ruang belajar. Ia adalah wadah impian, batu loncatan, dan cahaya baru bagi generasi muda dari akar masyarakat. Dari Kediri, harapan ini tumbuh dan akan terus menyala—menerangi jalan anak-anak menuju masa depan yang lebih layak dan bermartabat.
jurnalis : Anisa Fadila