Kadisdik Muhsin didampingi Camat dan Kades turut menari (Sigit Cahya Setyawan)

Warga Dawung Kembali Bentangkan Bendera Sepanjang 1.000 Meter Diiringi 1.146 Penari Jaran Kepang

KEDIRI – Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke – 79, Pemerintah Desa Dawung Kecamatan Ringinrejo, kembali membentangkan bendera ukuran raksasa sepanjang 1000 meter, Jumat (16/08). Memasuki kegiatan di tahun ketiga ini, mengusung konsep yang berbeda. Kali ini disajikan atraksi tari jaran kepang diikuti 1.146 penari dari warga setempat.

Mokhamad Muhsin selaku Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri, hadir mewakili Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana, menyampaikan apresiasi atas nama pemerintah kabupaten. Dengan kegiatan yang diselenggarakan pemerintah desa.

“Saya menyampaikan pesan Mas Bup, bahwa kegiatan di desa Dawung ini harus tetap dilestarikan karena nguri nguri budaya. Program yang sudah bagus dari pemerintah desa tolong dilanjutkan,” ujarnya.

Dalam kesempatan ini Muhsin bersama Camat Ringinrejo Edi Purwanto dan Kades Dawung, Slamet Widodo turut menari diantara ribuan penari jaran. Dikonfirmasi disela acara, Muhsin berharap kegiatan ini bisa ditiru masyarakat luas dan desa lain di Kabupaten Kediri karena memiliki efek multipler.

“Kegiatan ini diharapkan memacu semangat belajar anak, menanamkan sifat cinta tanah air juga membantu proses pembentukan profil pelajar Pancasila. Dari aspek budaya kena, aspek nasionalisme kena dan juga membantu UMKM karena pedagang yang jualan pasti laku sehingga ekonomi juga bergerak,” terangnya.

Sementara Kades Dawung saat dikonfirmasi menyampaikan konsep jaran kepang ini sengaja dibuat untuk meng-edukasi masyarakat, agar tidak terpengaruh budaya asing. Dia pun menyebutkan untuk mempersiapkan acara selama 2 bulan. Apalagi mayoritas masyarakat setempat belum pernah menari jaran kepang.

“Ini kita tujukan khususnya kaula muda, anak anak yang masih sekolah bahwasanya kita jangan sampai terpengaruh budaya luar sedangkan bangsa Indonesia memiliki budaya lokal yang sangat santun salah satunya seni jaranan,” ungkapnya.

Jurnalis : Sigit Cahya Setyawan
Editor : Nanang Priyo Basuki