KEDIRI, – Sebagai bagian dari persiapan Pilkada 2024, Polres Kediri Kota menggelar acara doa bersama Rabu malam (09/10) di halaman Mako Polres Kediri Kota. Turut hadir jajaran Forkompinda, tokoh agama, tokoh masyarakat, pejabat pemerintah, tim pemenangan paslon kota kabupaten jajaran forkompincam dari delapan kecamatan dan stakeholder lainya.
K.H. Anwar Iskandar selaku Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) menekankan, pentingnya menjaga stabilitas keamanan dan perdamaian. Dirinya berharap Uhkuwah Wathaniyah atau kerukunan antar umat dan bangsa negara dapat digaungkan seiring akan dilaksanakan Pilkada serentak.
“Kediri harus menjadi kota yang aman, tenang, dan damai. Keamanan bukan hanya kebutuhan polisi atau tentara, tapi kebutuhan seluruh rakyat. Dengan situasi aman, kita bisa bekerja optimal, mendidik anak, dan beribadah dengan khusyuk,” ujarnya.
Beliau juga menyinggung perbandingan dengan daerah konflik seperti Gaza, mengingatkan bahwa tanpa rasa aman, masyarakat tidak bisa menjalani kehidupan dengan normal.
“Jika kita aman, investasi akan datang, peluang kerja terbuka, dan daya beli masyarakat meningkat,” tambahnya.
Kapolres Kediri Kota, AKBP Bramastyo Priaji, menyampaikan bahwa acara doa bersama ini adalah bagian dari upaya menciptakan “cooling system” menjelang Pilkada serentak di akhir tahun.
“Kita undang kurang lebih ada 600 orang yang hadir untuk bersama-sama menjaga agar Pilkada berlangsung damai. Mari kita hindari hoaks dan kampanye hitam yang dapat memecah belah bangsa,” tegasnya.
Selain itu, Pj Walikota Kediri, Dr. Ir. Zanariah M.Si., juga memberikan pesan penting mengenai Pilkada.
“Pilkada ini membawa arah baru bagi daerah kita. Mari kita hadapi dengan hati yang jernih dan sehat, serta saling menghormati pilihan masing-masing. Euforia demokrasi harus mengharmoniskan, bukan memecah belah,” ungkapnya.
Acara doa bersama ini diakhiri dengan harapan agar Pilkada 2024 berlangsung jujur, adil, transparan, dan diberkahi kelancaran. Acara ini sekaligus berkomitmen untuk menjaga semangat persatuan dan kesatuan di tengah perbedaan pilihan politik.
jurnalis : Sigit Cahya Setyawan editor : Nanang Priyo BasukiBagikan Berita :









