foto : Anisa Fadila

Wali Barokah Kediri Jadi Role Model Eco Pesantren: Bimtek 2025 Teguhkan Budaya Hijau yang Kian Mengaka

Bagikan Berita :

KEDIRI — Semangat cinta lingkungan kini kian tumbuh subur di pesantren-pesantren Jawa Timur. Hal itu tampak jelas dalam gelaran Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengelolaan Lingkungan Hidup Eco Pesantren 2025 yang berlangsung di Pondok Pesantren Wali Barokah, Kota Kediri, Senin (24/11). Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan, tetapi menjadi energi baru yang memperkuat budaya hijau yang telah lama mengalir dalam denyut kehidupan pesantren — kini diarahkan lebih terstruktur dan selaras dengan kebijakan pemerintah.

Anggota DPRD Jawa Timur, Khusnul Arif, S.Sos., menggambarkan eco pesantren sebagai gerakan yang telah berakar sejak 2008, sebuah inisiatif pemerintah pusat untuk menanamkan kepedulian ekologis di pusat-pusat pendidikan Islam. Ia menegaskan, pesantren memegang peranan strategis sebagai agen perubahan: dekat dengan masyarakat, dihormati oleh umat, dan memiliki kekuatan moral yang mampu menuntun perilaku santri.

“Jika lingkungan pesantren terkelola baik, dipadukan dengan kurikulum serta aktivitas harian santri, maka akan lahir gelombang kesadaran lingkungan yang mengalir hingga ke masyarakat luas,” ujarnya.

Ia memandang Pondok Pesantren Wali Barokah sebagai contoh nyata kesiapan menerapkan prinsip eco pesantren. Bagi Khusnul, kehadiran Bimtek ini bukan sekadar pendampingan teknis, tetapi menjadi langkah terakhir menjelang penetapan Wali Barokah sebagai Eco Pesantren Pratama. Bukti lapangan menunjukkan pesantren ini tengah melangkah di jalur yang tepat menuju pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

Sejalan dengan itu, Analis Kebijakan Teknis DLH Jawa Timur, Barikhul Haq, turut memaparkan perkembangan eco pesantren di tingkat provinsi. Ia menegaskan bahwa pemerintah memiliki kewajiban moral dan regulatif untuk terus mendampingi pesantren, baik melalui pembinaan maupun penyediaan fasilitas pendukung. Menurutnya, kualitas eco pesantren bukan semata ditentukan oleh infrastruktur, tetapi juga oleh nilai-nilai internal dan kebijakan yang benar-benar berpihak pada kelestarian lingkungan.

“Penilaian eco pesantren mencakup perilaku ramah lingkungan serta kebijakan yang selaras dengan prinsip-prinsip keberlanjutan,” tuturnya.

Meski begitu, Barikhul mengakui bahwa partisipasi kabupaten/kota masih belum merata. Dari 38 daerah, kurang dari separuh yang aktif, dipengaruhi oleh perbedaan kapasitas dan kesiapan masing-masing wilayah.

Di tengah proses pembinaan tersebut, Ketua Pondok Pesantren Wali Barokah, Drs. H. Sunarto, M.Si., menyampaikan apresiasi mendalam atas dukungan pemerintah provinsi, pemerintah kota, dan DPRD. Ia menegaskan bahwa budaya ramah lingkungan sesungguhnya sudah lama hidup di pesantren, namun Bimtek ini memberi arah baru yang lebih terintegrasi dengan regulasi pemerintah.

“Dengan adanya Bimtek, kami sangat terbantu. Informasi mengenai regulasi terbaru membuat pengelolaan eco pesantren di Wali Barokah menjadi lebih terprogram, berkelanjutan, dan bersinergi dengan semua pihak,” ucapnya.

Sunarto juga memaparkan langkah nyata yang telah dijalankan pesantrennya: pemanfaatan PLTS untuk memenuhi kebutuhan energi, sistem pemilahan sampah terpadu, daur ulang plastik menjadi kerajinan bernilai, hingga produksi kompos untuk mendukung sektor pertanian pesantren. Kebutuhan sanitasi pun diperhatikan melalui penataan kamar mandi dengan rasio ideal, memastikan kenyamanan santri terutama pada jam-jam sibuk menjelang salat subuh.

Sebagai kegiatan penutup, peserta Bimtek diajak mengikuti praktik langsung pengolahan sampah organik dan anorganik bersama pegiat lingkungan, Sujiman. Melalui sesi ini, para peserta diharapkan membawa pulang keterampilan aplikatif yang bisa diterapkan di pesantren masing-masing, memperkuat gerakan eco pesantren yang terus tumbuh di Jawa Timur.

jurnalis : Anisa Fadila
Bagikan Berita :