KEDIRI – Aroma manis melon hidroponik menguar di udara. Rabu (5/11), Wakil Bupati Kediri Dewi Mariya Ulfa tampak tersenyum saat tangannya memetik buah hasil kerja keras para petani muda di UPTD Benih Pare. Tak sekadar panen, kegiatan ini menjadi panggilan hati — ajakan lembut bagi generasi muda untuk kembali mencintai tanahnya.
Mewakili Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana, Dewi menyampaikan keprihatinannya terhadap makin menurunnya minat anak muda di dunia pertanian. Padahal, Kediri memiliki lahan subur dan potensi besar yang menunggu untuk digarap.
“Anak muda sekarang masih enggan terjun di pertanian, padahal potensi pertanian di Kabupaten Kediri besar sekali. Ini menjadi tantangan kita bersama. Lalu siapa nanti yang akan meneruskan apabila putra-putri kita belum ada yang mau terjun?” tutur Dewi dalam sambutannya yang hangat namun penuh makna.
Ia menegaskan, kegiatan panen melon hidroponik ini bukan sekadar seremoni, tetapi simbol dari harapan baru. Mas Bupati, kata Dewi, ingin mendorong lahirnya lebih banyak petani muda yang bangga menanam, memanen, dan menghidupi bumi mereka sendiri.
“Harapannya Mas Bupati, kegiatan ini bisa jadi trigger. Dengan suksesnya petani muda, tolong ajak yang muda-muda ikut peduli, ikut jadi petani di wilayahnya. Meskipun masih sekolah pun bisa sambil bertani dengan memanfaatkan lahan pekarangan,” imbuhnya.
Di atas lahan seluas 800 meter persegi, para petani hidroponik berhasil memanen sekitar 3,5 ton melon — bukti nyata bahwa inovasi dan ketekunan bisa tumbuh berdampingan. Wajah-wajah petani muda tampak berbinar, bukan hanya karena hasil panen, tapi karena rasa bangga telah membuktikan bahwa pertanian kini bisa modern, bersih, dan menjanjikan.
Tak berhenti di sana, Wakil Bupati juga menyerahkan 10 unit traktor kepada 10 kelompok tani (poktan) di Kabupaten Kediri. Saat pembawa acara bertanya apakah para penerima bantuan merasa senang, jawaban “Senang!” menggema serempak, disertai tawa dan senyum tulus yang melingkupi lapangan.
Dewi berharap bantuan ini bukan sekadar alat, tapi juga semangat baru.
“Harapan kami, dengan adanya bantuan ini petani bisa lebih mandiri dan pekerjaannya menjadi lebih ringan,” pungkasnya.
Panen melon hari itu terasa lebih dari sekadar hasil pertanian — ia menjadi perayaan ketekunan, kolaborasi, dan harapan. Di tengah derasnya arus modernisasi, Kabupaten Kediri memilih untuk kembali ke akar: tanah, air, dan tangan-tangan muda yang siap menanam masa depan.









