foto : Anisa Fadila

Santri Wali Barokah Kediri Belajar Hukum: Ketika Nilai Agama Bertemu Kesadaran Bernegara

Bagikan Berita :

KEDIRI – Ratusan santri Pondok Pesantren Wali Barokah tampak bersemangat mengikuti program “Jaksa Masuk Pesantren” yang digelar oleh Kejaksaan Negeri Kota Kediri, Rabu (15/10). Di bawah naungan aula pesantren yang penuh semangat belajar, suara jaksa berpadu dengan lantunan doa para santri—membentuk harmoni antara ilmu agama dan kesadaran hukum.

Program ini menjadi wujud nyata kedekatan dunia hukum dengan dunia pesantren. Para jaksa tidak datang untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menyemai benih kesadaran, bahwa hukum bukanlah cambuk, tetapi pagar moral yang melindungi kehidupan bersama.

Kepala Kejaksaan Negeri Kota Kediri, Andi Mirnawati, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar penyuluhan, melainkan sebuah gerakan moral. Ia menegaskan pentingnya menanamkan nilai-nilai hukum sejak dini di kalangan santri agar tumbuh menjadi pribadi yang bijak dan bertanggung jawab.

“Santri harus kuat dalam ilmu agama, tetapi juga paham hukum. Pemahaman ini penting agar mereka mampu membedakan mana yang benar secara moral dan benar secara hukum,” ujar Andi.

Ia menambahkan, disiplin pesantren adalah lahan subur bagi tumbuhnya generasi yang taat aturan. Di balik jadwal padat dan kehidupan sederhana para santri, tersimpan potensi besar untuk menjadi agen perubahan—mereka yang berilmu, beradab, dan sadar akan tanggung jawab sosialnya.

Dari sisi pesantren, KH. Sunarto, Pimpinan Pondok Wali Barokah, menyambut kegiatan ini dengan tangan terbuka. Baginya, pengetahuan hukum adalah saudara kandung dari nilai-nilai akhlak.

“Banyak persoalan di masyarakat bermula dari ketidaktahuan akan hukum. Maka, pencegahan harus dilakukan dengan memberikan pemahaman sejak dini,” tuturnya lembut.

Pesantren Ruang Pembentukan Karakter

foto : Anisa Fadila

Menurut KH. Sunarto, prinsip tanggung jawab dan kedisiplinan yang diajarkan di pondok sejalan dengan semangat hukum: mengatur bukan untuk membatasi, tetapi untuk menjaga keharmonisan hidup. Santri diajak untuk menjadi pribadi yang santun, memahami etika pergaulan, serta mampu menjaga nama baik pesantren di tengah masyarakat.

Di antara ratusan peserta, Varel, santri asal Semarang Selatan, tampak antusias. Ia mengaku penyuluhan ini membuka cakrawala baru.

“Kami jadi tahu bagaimana hukum bekerja, bagaimana seseorang bisa menghadapi proses hukum dengan benar, dan mengapa kejujuran serta transparansi begitu penting,” katanya dengan mata berbinar.

Bagi Varel, dunia pesantren bukan hanya tempat menimba ilmu agama, tapi juga ruang pembentukan karakter bangsa—tempat belajar menjadi manusia yang utuh, berilmu, dan beretika.

Kegiatan Jaksa Masuk Pesantren ini menjadi bukti bahwa pendidikan hukum dapat disampaikan dengan kelembutan nilai-nilai pesantren. Di ruang yang biasanya bergema lantunan ayat suci, kini juga bergema pesan keadilan dan kesadaran hukum.

Dari Wali Barokah Kediri, sebuah harapan tumbuh: lahirnya generasi santri yang berakhlak mulia, berwawasan luas, dan sadar hukum—sebuah perpaduan ideal antara iman, ilmu, dan akal sehat, yang menjadi fondasi bangsa berkeadaban.

jurnalis : Anisa Fadila
Bagikan Berita :