foto : Anisa Fadila

Santri Ponpes Lirboyo Belajar Konstruksi dan Keselamatan Kerja: Dari Kitab ke Beton, Dari Doa ke Pembangunan

Bagikan Berita :

KEDIRI – Di balik tembok-tembok kokoh Pondok Pesantren Lirboyo, suara lantunan doa kini berpadu dengan dentingan besi dan deru mesin molen. Bukan karena pesantren ini berubah arah, tetapi karena semangat baru tumbuh di antara para santrinya: semangat membangun negeri dengan tangan terampil dan hati berakhlak.

Mulai 20 Oktober hingga 1 November 2025, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menggelar Pelatihan Konstruksi dan Keselamatan Kerja (K3) bagi 107 santri Lirboyo. Dalam dua pekan itu, para santri belajar menakar campuran beton, membaca gambar kerja, hingga mengenakan helm proyek dengan bangga—semua tanpa meninggalkan sorban dan sarung kebanggaan mereka.

Pelatihan dibagi menjadi dua tahap: lima hari untuk K3 dan sepuluh hari untuk keterampilan pertukangan. Para peserta tak hanya duduk mendengarkan teori, tapi juga langsung praktik membangun struktur nyata, dibimbing tenaga ahli dari Kementerian PUPR Pusat.

Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, KH. O’ing Abdul Mu’id Shohib, menilai kegiatan ini sebagai wujud nyata kolaborasi antara ilmu agama dan keahlian dunia kerja.

“Selama ini banyak santri yang belajar pertukangan secara otodidak. Dengan pelatihan ini, mereka tidak hanya punya semangat, tapi juga ilmu yang benar dan sesuai standar profesional,” tuturnya.

“Kami ingin santri Lirboyo dikenal bukan hanya karena kealimannya, tapi juga karena keterampilannya membangun.”

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan Dirjen Cipta Karya beberapa waktu lalu. Menariknya, Pesantren Lirboyo menjadi salah satu dari tiga pesantren percontohan nasional, bersama Pondok Denanyar Jombang dan Pondok Tremas Pacitan. Ketiganya menjadi simbol integrasi antara pendidikan keagamaan dan pengembangan keterampilan teknis di lingkungan pesantren.

Dari sisi teknis, instruktur bangunan dari Kementerian PUPR, Amin Zainullah, menjelaskan bahwa pelatihan dimulai dengan dasar-dasar struktur beton bertulang. Para santri diajak memahami bagaimana pondasi menopang bangunan, bagaimana kolom berdiri tegak, hingga bagaimana dak beton menutup sempurna bangunan bertingkat.

“Proyek praktik kami berupa bangunan bertingkat. Jadi para santri belajar langsung dari nol—mulai pondasi, sloof, kolom, balok, hingga tangga. Setelah itu, kami lanjutkan ke pekerjaan arsitektur seperti memasang dinding, plafon, keramik, dan pengecatan,” ungkapnya.

Pelatihan ini juga mengikuti Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Santri yang lulus akan memperoleh Sertifikat Tukang Bangunan Gedung Level 2, bukti resmi bahwa mereka bukan sekadar pekerja, tapi tenaga profesional yang diakui negara.

“Kami ingin para santri punya masa depan cerah. Mereka bisa kembali ke kampung halaman bukan hanya membawa ilmu agama, tapi juga kemampuan membangun. Siapa tahu, dari pesantren lahir mandor, kontraktor, bahkan arsitek masa depan,” kata Amin sambil tersenyum.

Melalui program ini, Kementerian PUPR ingin menunjukkan bahwa pembangunan tak hanya soal beton dan baja, tapi juga soal nilai dan jiwa. Bahwa dari ruang-ruang pesantren, tempat santri menimba adab dan ilmu, bisa lahir tangan-tangan terampil yang membangun bangsa dengan kejujuran dan ketulusan.

Pesantren Lirboyo kini bukan hanya menyalakan lentera ilmu agama, tapi juga menyalakan semangat konstruksi peradaban—menyatukan iman dan keterampilan, doa dan tindakan, kitab dan beton. Karena sejatinya, membangun negeri juga bagian dari ibadah.

jurnalis : Anisa Fadila
Kami atas nama PT. Kediri Panjalu Jayati menyampaikan terkait Penggunaan Ulang Karya Jurnalistik Tanpa Izin, UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dan UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Kami mengingatkan bahwa setiap konten berita yang diterbitkan oleh kediritangguh.co merupakan karya cipta yang dilindungi undang-undang. Oleh karena itu, setiap bentuk penggandaan, pengutipan penuh, maupun publikasi ulang tanpa izin melanggar hukum dan dapat dikenai sanksi pidana.
Bagikan Berita :