foto : Anisa Fadila

Ribuan Warga Meriahkan Malam Puncak Bazarku Bazarmu di Kediri, Niken Salindri Jadi Magnet Utama

Bagikan Berita :

KEDIRI – Lapangan Gajah Mada, Kecamatan Pesantren, dipadati ribuan warga pada Kamis (18/9) malam. Mereka hadir untuk menikmati puncak perayaan Bazarku Bazarmu – The Java of Culture Festival, yang ditutup dengan penampilan penyanyi campursari muda, Niken Salindri, berhasil menghipnotis penonton lewat suara khasnya.

Acara ini menjadi penutup rangkaian bazar dalam rangka Hari Jadi ke-1.146 Kota Kediri. Sejak sore hari, pengunjung sudah memenuhi area lapangan untuk berburu jajanan tradisional dan kerajinan khas lokal. Sedikitnya ada 30 stan UMKM dan kelurahan yang ikut meramaikan.

Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati, turut hadir memberi apresiasi. Ia menegaskan bahwa Bazarku Bazarmu tak hanya sekadar hiburan, tetapi juga ruang kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat guna memperkuat ekonomi lokal.

“Produk lokal kita memiliki nilai ekonomi sekaligus budaya. Saya berharap masyarakat semakin aktif membeli dan mempromosikan produk Kota Kediri agar makin dikenal luas,” ujar Vinanda.

Antusiasme warga juga terlihat dari pengalaman pengunjung. Iren, salah satu penonton, mengaku datang khusus untuk menyaksikan Niken sekaligus berbelanja produk UMKM.

“Saya beli jamu dan klepon. Rasanya enak, harganya terjangkau, dan acaranya seru sekali. Semoga bazar seperti ini sering diadakan lagi,” ungkapnya.

Dengan memadukan pameran produk UMKM dan hiburan musik, Bazarku Bazarmu sukses menghadirkan suasana meriah dan penuh kebersamaan. Ajang ini juga menjadi etalase kebanggaan Kota Kediri, sekaligus modal berharga untuk penyelenggaraan di tahun-tahun mendatang, sejalan dengan visi Kota Kediri Mapan, Kota Kediri Ngangenin.

Klarifikasi Pengelola Paguyuban PKL

Meski meriah, sempat beredar kabar adanya keluhan soal pungutan terhadap PKL. Menanggapi hal itu, pengelola PKL menegaskan bahwa pungutan sudah disepakati bersama antara pengelola dan pedagang yang menyewa tempat.

Pada Selasa (16/9), sempat terjadi perdebatan mengenai biaya awal sewa lapak sebesar Rp50 ribu yang direncanakan untuk kebutuhan listrik, gapura, kebersihan, keamanan, dan lain-lain. Namun setelah dirundingkan dengan camat, biaya itu diturunkan menjadi Rp30 ribu untuk dua hari.

“Kalau pedagang yang biasa ikut bazar, mereka anggap murah. Mungkin ada pedagang dari luar yang belum terbiasa dengan sistem ini, jadi kaget dan akhirnya menyampaikan aduan,” jelas Ari, pengelola PKL.

Ia menegaskan, biaya Rp30 ribu yang dikenakan sudah mencakup kebersihan, potong rumput, listrik, hingga keamanan kendaraan pedagang PKL.

“Jadi Rp30 ribu untuk dua hari menurut saya murah. Tapi entah kenapa masih ada yang protes, padahal awalnya sudah sepakat, bahkan jumlah pedagang sampai melebihi kapasitas,” tandasnya.

 

Jurnalis: Anisa Fadila
Bagikan Berita :