KEDIRI – Proyek pembangunan Gedung Olahraga (GOR) di Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri kembali menjadi sorotan publik. Setelah terbengkalai sejak 2020, LSM Gerak akhirnya menggelar audiensi di Kantor Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Kediri, Rabu (30/07), guna mendesak kejelasan nasib megaproyek tersebut.
Aktivis LSM Gerak mempertanyakan penggunaan anggaran yang sudah digelontorkan sejak era Bupati Haryanti Sutrisno. Pasalnya, dari total anggaran yang disebut mencapai puluhan miliar rupiah, pembangunan GOR baru sampai pada tahap fondasi dan pagar. Proyek yang awalnya digadang sebagai fasilitas olahraga strategis ini justru terkesan dibiarkan mangkrak.
“Sudah puluhan miliar digelontorkan, tapi bangunannya cuma fondasi dan pagar. Lahan 4 hektare itu akhirnya jadi lahan kosong, anggaran publik seperti disia-siakan,” tegas Abdul Suud, perwakilan LSM Gerak.
Pihak Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) melalui Kepala Bidang Cipta Karya, Joko Riyanto, menyebutkan bahwa pembangunan tahap awal menyerap anggaran sekitar Rp11 miliar. Ia mengklaim, seluruh perencanaan lanjutan sudah siap, namun terhambat karena belum tersedianya dana lanjutan. Untuk menyelesaikan seluruh proyek, dibutuhkan anggaran sekitar Rp150 miliar.
“Kami sudah rampungkan perencanaan lanjutan. Tapi untuk eksekusi, tergantung pada ketersediaan dana,” jelas Joko.
Sementara itu, Bakesbangpol yang memfasilitasi audiensi mengungkap bahwa proyek ini terhambat sejumlah faktor, mulai dari pandemi COVID-19 hingga efisiensi anggaran yang kini difokuskan pada program prioritas nasional seperti MBG dan Sekolah Rakyat.
“Pasca fondasi dibangun, pandemi melanda. Kini di tengah tahun politik, anggaran lebih diarahkan ke program prioritas nasional. Efisiensi tahun 2025 juga sangat ketat,” terang Moh. Saifudin Zuhri, Kabid Kewaspadaan Nasional dan Penanganan Konflik Bakesbangpol.
Di sisi lain, LSM Gerak juga menyoroti lemahnya pengawasan dan kurangnya transparansi informasi publik. Mereka menyebut adanya dugaan penyimpangan, termasuk pencurian material proyek karena tidak adanya pengamanan di lokasi.
“Tidak ada data rinci yang bisa kami akses. Di lokasi, besi-besi sudah banyak yang hilang. Ini jelas ada masalah dalam pengawasan,” tegas Ketua LSM Gerak, Moh. Rifai.
Mereka pun berencana mengajukan permintaan data ke Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD), menyusul indikasi temuan yang mencurigakan dalam proyek tahap awal tersebut.
Sebagai informasi, lokasi proyek GOR berada tepat di seberang situs sejarah Totok Kerot. Jika terus dibiarkan terbengkalai, dikhawatirkan akan berdampak buruk terhadap citra pembangunan daerah dan memudarkan potensi kawasan strategis tersebut.
jurnalis : Sigit Cahya SetyawanBagikan Berita :









