KEDIRI – Di tengah maraknya kasus keracunan makanan yang terjadi di berbagai daerah, Pemerintah Kota Kediri bergerak cepat. Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) kini diawasi dengan lebih ketat dan menyeluruh. Langkah ini diambil bukan sekadar untuk mematuhi aturan, tetapi untuk memastikan setiap suapan yang disantap anak-anak sekolah di Kediri aman, higienis, dan penuh gizi.
Pengawasan dilakukan secara lintas sektor—sebuah kerja sama lintang dinas yang melibatkan Dinas Kesehatan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), serta Satgas MBG. Mereka bekerja dari hulu hingga hilir, memastikan kualitas makanan tetap terjaga, mulai dari dapur hingga meja makan para siswa.
Koordinator Satgas MBG sekaligus Pj. Sekda Kota Kediri, HM. Ferry Djatmiko, menegaskan, sistem pengawasan ini bukan sekadar formalitas. Pemerintah daerah turun langsung, menata setiap detail agar tak ada celah bagi kelalaian.
“Pengawasan MBG dilakukan lewat intervensi pemerintah daerah. Dinas Kesehatan memantau dapur-dapur SPPG agar memiliki Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi, sementara Disperindag memastikan setiap sajian telah bersertifikat halal,” ujar Ferry, Rabu (29/10).
Untuk menjaga mutu dan keamanan pangan, Pemkot Kediri juga menerapkan aturan waktu yang ketat—semacam “tarian terukur” antara dapur, waktu, dan cita rasa. Makanan untuk anak SD, SMP, dan SMA wajib dikirim antara pukul 11.00 hingga 12.00 siang, sementara proses memasak dimulai sejak tengah malam. Tujuannya, agar setiap hidangan tiba dalam kondisi terbaik—hangat, segar, dan penuh nutrisi.
“Proses masak dimulai di atas jam 12 malam supaya kualitas makanan tetap terjaga hingga tiba di sekolah,” jelas Ferry.
Saat ini terdapat 24 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di seluruh Kota Kediri. Setiap dapur tak berdiri sendiri—mereka didampingi oleh ahli gizi yang memastikan takaran dan kandungan nutrisi sesuai pedoman. Kepatuhan terhadap petunjuk teknis menjadi hal mutlak, sebab dari dapurlah kesehatan anak-anak Kediri bermula.
“Sejauh ini belum ada laporan makanan yang bermasalah. Tapi jika ada pengaduan, kami punya koordinator wilayah dan sistem pelaporan online. Masyarakat bisa melapor lewat website resmi, termasuk jika menemukan makanan basi atau porsi yang tidak sesuai,” tambahnya.
Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang merupakan inisiatif pemerintah pusat ini mendapat sambutan hangat dari berbagai sekolah di Kediri. Di banyak ruang kelas, program ini bukan hanya sekadar soal makanan—tetapi tentang perhatian, kasih sayang, dan komitmen untuk membangun generasi sehat.
Namun, Pemkot Kediri tak berpuas diri. Pengawasan terus diperketat, terutama dalam hal kualitas bahan baku, distribusi, dan kebersihan dapur. Pemerintah berharap sinergi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat dapat memastikan setiap anak mendapatkan haknya: makanan yang sehat, aman, dan bergizi setiap hari.
Kediri seolah sedang menulis kisah baru—kisah tentang bagaimana kota ini menjaga masa depan lewat sepiring nasi bergizi. Sebab di balik setiap anak yang tumbuh kuat, selalu ada dapur yang bekerja dengan cinta dan disiplin.
Bagikan Berita :jurnalis : Anisa Fadila
Kami atas nama PT. Kediri Panjalu Jayati menyampaikan terkait Penggunaan Ulang Karya Jurnalistik Tanpa Izin, UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dan UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Kami mengingatkan bahwa setiap konten berita yang diterbitkan oleh kediritangguh.co merupakan karya cipta yang dilindungi undang-undang. Oleh karena itu, setiap bentuk penggandaan, pengutipan penuh, maupun publikasi ulang tanpa izin melanggar hukum dan dapat dikenai sanksi pidana.









