foto : Neha Hasna Maknuna

Parade Cikar Kediri: Melestarikan Budaya Lokal dan Sapi PO, Meriahkan HUT ke-80 RI

KEDIRI – Pemerintah Kabupaten Kediri bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) menggelar Parade Cikar 2025 dengan melibatkan 50 peserta, Sabtu (30/08). Agenda ini bukan sekadar perayaan budaya, tetapi juga upaya menjaga tradisi sekaligus memperkuat ketahanan pangan masyarakat.

Wakil Bupati Kediri, Dewi Mariya Ulfa, menegaskan bahwa parade ini menjadi wadah untuk memperkenalkan kembali Cikar, alat transportasi tradisional yang kini mulai langka, kepada generasi muda.

“Kita berharap masyarakat Kediri ikut melestarikan Cikar. Tradisi ini bisa menjadi daya tarik wisata budaya, karena hanya ada di Kabupaten Kediri,” jelasnya.

Selain melestarikan Cikar, parade ini juga menaruh perhatian pada sapi jenis Peranakan Ongole (PO) yang digunakan sebagai penarik. Populasi sapi PO di Kediri kian menurun, sehingga kegiatan ini diharapkan mampu menarik minat peternak untuk kembali merawatnya.

Sebagai bentuk dukungan sosial, parade ini juga dirangkaikan dengan perayaan HUT ke-80 Republik Indonesia melalui pembagian 1.500 butir telur kepada masyarakat. Telur tersebut merupakan sumbangan komunitas pengusaha unggas Kediri untuk meningkatkan gizi warga.

“Telur bergizi dan bisa dikonsumsi semua usia. Kami ingin masyarakat semakin sehat,” tambah Dewi.

Kepala DKPP Kediri, Tutik Purwaningsih, menjelaskan bahwa pemerintah aktif menjalin komunikasi dengan komunitas pemilik Cikar, yang kerap disebut bajingan Cikar.

“Kami rutin berkoordinasi dan bersinergi dengan komunitas yang sudah terbentuk,” ujarnya.

Jumlah peserta parade juga terus meningkat. Jika tahun lalu hanya 41 peserta, tahun ini naik menjadi 50, bahkan ada peserta dari Klaten, Jawa Tengah.

“Antusiasme luar biasa, bahkan ada yang dari luar daerah bertanya cara ikut bergabung,” ungkap Tutik.

Menurut Tutik, parade ini tidak hanya tentang melestarikan tradisi, tetapi juga mendorong pembinaan peternak sapi. DKPP melibatkan komunitas Cikar dalam program kesehatan hewan, termasuk vaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta Lumpy Skin Disease (LSD).

Diskusi rutin mengenai pakan ternak dan perawatan kesehatan sapi juga dilakukan, sehingga keberlangsungan populasi sapi PO di Kediri tetap terjaga.

Salah satu peserta parade, Yudhiyono alias Mbah Lurah, mengaku bangga bisa ikut serta dan mendapat dukungan dari pemerintah daerah.

“Kami merasa bangga dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan maksimal, baik sapi maupun Cikar,” tutur Mbah Lurah.

Ia menambahkan, sapi yang digunakan adalah jenis PO atau biasa disebut Sapi Jowo. Saat ini, ia memelihara delapan ekor sapi yang terbagi dalam empat pasang khusus untuk menarik Cikar.

jurnalis : Neha Hasna Maknuna