KEDIRI – Sineas asal Kediri, Harianto, kembali mencuri perhatian publik. Kali ini, ia bersama rekannya Donny Novianto bersiap menghadirkan sebuah film layar lebar yang terinspirasi dari fenomena Patung Macan Putih yang sempat viral di Desa Balongjeruk Kecamatan Kunjang.
Film tersebut direncanakan tayang pada tahun ini dan tidak hanya ditujukan sebagai hiburan semata. Menurut Donny Novianto, film ini diharapkan mampu menjadi ikon baru yang mendorong sektor pariwisata sekaligus ekonomi kreatif di wilayah Kabupaten Kediri.
“Film ini diproyeksikan tayang tahun ini. Bukan hanya sebagai tontonan, tetapi juga sebagai ikon baru pariwisata dan ekonomi kreatif Kediri,” ujar Donny saat dikonfirmasi, Jumat (16/01).
Rencana produksi film tersebut mendapat sambutan positif dari pemerintah desa setempat. Kepala Desa Balongjeruk, Syafi’i, secara resmi memberikan restu dan dukungan penuh atas pengangkatan kisah Patung Macan Putih ke layar lebar.
Diketahui, Patung Macan Putih bukan sekadar sebuah monumen. Keberadaannya menyimpan narasi panjang yang merangkai legenda, sejarah lokal, nilai gotong royong, serta semangat pelestarian budaya yang telah hidup turun-temurun di tengah masyarakat.
Patung tersebut berdiri sebagai simbol jati diri desa, pengingat asal-usul leluhur, sekaligus lambang harapan bagi generasi mendatang. Bagi warga Balongjeruk, Patung Macan Putih bukan benda mati. Ia hidup dalam cerita tutur para sesepuh, doa-doa warga, dan kebanggaan kolektif masyarakat desa.
Selama ini, Desa Balongjeruk dikenal sebagai kawasan agraris dengan tradisi gotong royong yang kuat. Hamparan sawah hijau dan kehidupan sosial yang guyub menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian warga. Nilai-nilai kebersamaan tersebut pula yang melatarbelakangi lahirnya Patung Macan Putih sebagai simbol persatuan.
Budaya lisan masih terjaga hingga kini melalui cerita para sesepuh desa. Nilai keberanian, kesetiaan, serta keharmonisan dengan alam kerap disampaikan melalui simbol-simbol budaya, salah satunya sosok macan putih. Dari sinilah gagasan pembangunan patung tersebut bermula, sebagai peneguh identitas budaya lokal.
Dalam tradisi Jawa, macan putih dimaknai sebagai simbol kekuatan yang diiringi kebijaksanaan. Warna putih melambangkan kesucian niat dan kejernihan batin, mengajarkan bahwa kekuatan sejati harus selalu berjalan seiring dengan moral dan kebajikan.
Cerita tutur masyarakat juga menyebutkan bahwa macan putih dipercaya sebagai penjaga gaib wilayah Kediri, pelindung dari marabahaya, sekaligus penuntun spiritual. Keyakinan inilah yang semakin menguatkan pemilihan macan putih sebagai ikon Desa Balongjeruk.
Dorongan untuk melestarikan budaya di tengah arus perubahan zaman menjadi alasan utama dibangunnya Patung Macan Putih. Kekhawatiran akan lunturnya identitas lokal mendorong para tokoh masyarakat untuk menghadirkan simbol yang mudah dikenali dan sarat makna.
Keputusan pembangunan patung diambil melalui musyawarah desa. Mulai dari pemilihan lokasi hingga konsep artistik, seluruh proses melibatkan partisipasi warga agar patung tersebut benar-benar merepresentasikan suara dan nilai bersama masyarakat Balongjeruk.
Bagikan Berita :








