foto : Anisa Fadila

Kepulangan Jamaah Umroh Travel Jennaty Kediri: Haru, Doa, dan Cinta yang Mengalir di Tanah Air

Bagikan Berita :

KEDIRI – Halaman Masjid Agung Kota Kediri berubah menjadi lautan haru. Udara terasa hangat oleh pelukan, isak tangis, dan tawa yang berpadu jadi satu. Para jamaah umroh berangkat melalui biro perjalanan religi Travel Jennaty akhirnya kembali ke tanah air, Kamis (09/10), setelah 12 hari menjalani ibadah suci di Tanah Haram.

Momen pertemuan dengan keluarga menjadi puncak keharuan yang tak terbendung. Banyak yang menitikkan air mata, bukan karena sedih, melainkan karena bahagia dan bersyukur.

Rombongan ini berangkat pada 28 September, terdiri dari 23 jamaah dan satu tour leader. Sejak awal, pihak Travel Jennaty menunjukkan komitmen penuh untuk memberikan pendampingan terbaik—mulai dari administrasi, pengecekan dokumen, hingga fasilitas perjalanan yang nyaman dan aman.

“Setiap jamaah kami dampingi secara menyeluruh agar mereka bisa beribadah dengan tenang, tanpa harus memikirkan urusan teknis,”
ungkap Agisna Puspita Dewi, staf Jennaty.

Ketulusan itu tampak nyata dalam setiap detail perjalanan. Mulai dari proses manasik hingga pendampingan di Tanah Suci, semua dijalankan dengan hati.

Bukan Sekedar Ibadah

foto : Anisa Fadila

Salah satu jamaah, Istianah, tak kuasa menahan tangis saat langkah kakinya menjejak halaman Masjid Agung Kediri. Ia mengaku sangat bersyukur bisa kembali menunaikan umroh bersama Jennaty untuk kedua kalinya.

“Pemilik dan tim Jennaty sepenuh hati memperhatikan kebutuhan kami, dari awal persiapan hingga tiba kembali di tanah air,”
ungkapnya dengan suara bergetar.

Baginya, perjalanan ini bukan sekadar ibadah, tetapi perjalanan batin yang memperdalam makna hidup. Ia merasakan kedamaian luar biasa, terutama ketika melaksanakan tiga kali umroh dan tawaf mandiri di Tanah Suci.

Selama di Madinah, jamaah menginap di hotel dekat Masjid Nabawi, sementara di Makkah mereka mendapat fasilitas tak jauh dari Masjidil Haram. Akses yang mudah membuat ibadah semakin khusyuk dan nyaman.

“Fasilitasnya luar biasa. Kami merasa sangat dimuliakan dan bersyukur bisa berangkat bersama Jennaty,” tambah Istianah dengan senyum bahagia.

Bagi banyak jamaah, pelayanan Jennaty tidak hanya profesional, tetapi juga hangat dan penuh perhatian—seolah menjadi keluarga yang menemani setiap langkah menuju baitullah.

Setibanya di Kediri, suasana berubah menjadi lautan pelukan dan air mata. Orang tua, anak, dan kerabat menyambut dengan penuh kasih. Ada yang tak sanggup berkata-kata, hanya bisa menatap dan meneteskan air mata bahagia.

Bagi mereka, kepulangan jamaah bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari pengalaman iman yang baru—sebuah kebangkitan rohani yang menumbuhkan rasa syukur dan cinta kepada Sang Pencipta.

Sejak berdiri, Travel Jennaty berkomitmen menghadirkan layanan berbasis kenyamanan, keamanan, dan ketulusan. Setiap keberangkatan dirancang agar jamaah bisa fokus beribadah tanpa khawatir hal-hal teknis.

Pendekatan humanis dan pelayanan personal menjadi ciri khas Jennaty yang membuat banyak jamaah kembali memilih mereka untuk perjalanan berikutnya.

“Kami bukan sekadar biro perjalanan, tapi keluarga yang menemani jamaah menuju kedekatan dengan Allah,”
terang Zaki Zamani mewakili Travel Jennaty.

Momen kepulangan ini menjadi refleksi bahwa ibadah tidak berakhir di Makkah atau Madinah. Justru di sinilah, di tengah keluarga dan kehidupan sehari-hari, nilai-nilai yang diperoleh selama umroh diuji dan dihidupkan kembali.

Di antara pelukan, doa, dan tawa kecil yang mengiringi pagi Kediri itu, ada pesan yang tak terucap—bahwa perjalanan spiritual sejati bukan hanya soal pergi, tapi tentang bagaimana kita pulang membawa cahaya iman dalam hati.

jurnalis : Anisa Fadila
Bagikan Berita :