KEDIRI – Pemerintah Kabupaten Kediri kembali menegaskan komitmennya menekan angka stunting hingga Zero Growth dan Zero Digit pada 2025. Komitmen itu ditegaskan dalam Rembuk Stunting 2025 yang digelar di Gedung Bagawanta Bhari, Selasa (28/10).
Namun, di balik target ambisius tersebut, Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana atau akrab disapa Mas Dhito, mengakui bahwa strategi yang diterapkan pada tahun sebelumnya belum sepenuhnya efektif di lapangan. Evaluasi menunjukkan, penyebab utama tidak lagi terletak pada gizi buruk, melainkan minimnya perhatian masyarakat terhadap kebersihan air dan sanitasi lingkungan.
“Persoalan stunting sekarang bukan hanya soal gizi, tetapi juga pola hidup bersih. Banyak masyarakat masih menggunakan air yang tidak layak dan belum memiliki jamban sehat,” ujar Mas Dhito dalam sambutannya.
Sebagai tindak lanjut, ia menugaskan seluruh camat di Kabupaten Kediri untuk memperbarui data, terutama di wilayah Desil 1–4 (kelompok masyarakat berpenghasilan rendah) yang masih minim fasilitas higienis. Langkah ini ditujukan untuk mempercepat pencapaian target Open Defecation Free (ODF) atau bebas buang air besar sembarangan di seluruh desa.
“Stunting adalah persoalan serius yang harus diselesaikan bersama. Dalam beberapa tahun ke depan, kita harus benar-benar mencapai Zero Growth dan Zero Digit Stunting,” tegasnya.
Meski tren penurunan stunting sudah terlihat, Bupati menilai hasilnya belum cukup signifikan. Ia menyebut, angka ideal seharusnya berada di bawah 5%. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya intervensi kolaboratif lintas sektor, melibatkan pemerintah daerah, instansi vertikal, Babinsa, Babinkamtibmas, dan seluruh pemangku kepentingan lainnya.
“Data yang akurat adalah kunci. Tanpa data yang valid, intervensi kita akan meleset dari sasaran. Penurunan angka stunting harus nyata, terukur, dan berkelanjutan,” tandasnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Kediri Hj. Dewi Maria Ulfa, selaku Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Kediri, menyampaikan apresiasi atas dukungan penuh Bupati. Ia mengungkapkan bahwa upaya Pemkab Kediri dalam menekan angka stunting telah membuahkan hasil positif.
“Alhamdulillah, Kabupaten Kediri meraih penghargaan kategori terbaik percepatan penurunan stunting tingkat Jawa Timur,” ujar Dewi dengan bangga.
Dewi menjelaskan, saat ini angka stunting di Kabupaten Kediri berada di 8,04%. Meskipun sudah turun, ia menegaskan bahwa perjuangan belum selesai. Strategi paling efektif, kata dia, dilakukan melalui intervensi terstruktur dan kolaboratif, menyesuaikan karakteristik dan kebutuhan setiap wilayah.
“Setiap desa memiliki kondisi berbeda. Karena itu, kerja sama seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD), aparat desa, serta masyarakat menjadi kunci. Upaya terstruktur dari tingkat kabupaten hingga desa harus terus berjalan agar penurunan stunting benar-benar terasa di lapangan,” jelasnya.
Melalui rembuk ini, Pemerintah Kabupaten Kediri menunjukkan bahwa perang melawan stunting tidak cukup dengan kampanye gizi, tetapi juga perlu perubahan perilaku hidup bersih dan sehat, disertai akses air bersih dan sanitasi yang memadai.
Dengan semangat kolaborasi dan dukungan lintas sektor, Kabupaten Kediri menatap tahun 2025 dengan harapan besar: generasi yang tumbuh sehat, cerdas, dan bebas stunting.









