Direktur PT. SDHI Maksin Arisandi (Anisa Fadila)

Jalur Langit di Tanah Mataraman: Terbang Langsung ke Jakarta, Menyapa Harapan dari Bandara Dhoho Kediri

Bagikan Berita :

KEDIRI – Angin perubahan kini berhembus di langit Mataraman. Senin (10/11) menjadi hari bersejarah ketika pesawat Super Air Jet menapaki landasan Bandara Internasional Dhoho Kediri untuk pertama kalinya. Rute langsung jalur langit Jakarta–Kediri–Jakarta akhirnya resmi mengudara, membawa makna lebih dari sekadar perjalanan udara—ia menghubungkan harapan, efisiensi, dan semangat baru bagi masyarakat Jawa Timur bagian barat.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyebut momen ini sebagai bukti hidup dari kolaborasi lintas wilayah dan sektor. Baginya, Bandara Dhoho bukan hanya monumen beton dan baja, melainkan simpul baru ekosistem pembangunan yang saling menopang antardaerah.

“Kestabilan okupansi penumpang tidak bisa dicapai dalam sekejap. Dukungan dari seluruh pihak adalah kuncinya,” ujar Emil dengan nada optimistis.

Ia menyoroti langkah kreatif pemerintah daerah yang berani memantik antusiasme publik. Program insentif dari Pemerintah Kabupaten Kediri dan Kabupaten Trenggalek—mulai dari tiket masuk wisata gratis hingga potongan harga hotel bagi penumpang pesawat dari Dhoho—menjadi contoh nyata bagaimana sinergi bisa mendorong ekonomi sekaligus menumbuhkan kebanggaan daerah.

“Kami mengapresiasi inisiatif Bupati Kediri dan Bupati Trenggalek. Inilah bentuk inovasi yang membumi dan berdampak langsung bagi masyarakat,” tambah Emil.

Dari sisi operator penerbangan, Presiden Direktur Lion Air Group Capt. Daniel Putut Kuncoro Adi menyebut penerbangan perdana ini sebagai hasil kerja bersama yang jarang terjadi—pemerintah, investor, dan pelaku usaha duduk satu meja, menatap langit dengan tujuan yang sama.

“Kolaborasi ini bukan hanya membuka rute baru, tapi membuka peluang ekonomi dan mobilitas yang lebih luas,” ungkapnya.

Nada senada datang dari Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana. Di tengah semangat Hari Pahlawan, ia mengingatkan bahwa keberlanjutan penerbangan tak hanya bergantung pada kebijakan, tetapi juga pada partisipasi masyarakat.

“Kami berharap tingkat okupansi bisa stabil di atas 70 persen. Dukungan masyarakat menjadi bahan bakar utama agar Bandara Dhoho terus beroperasi,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur PT Surya Dhoho Investama (SDHI) Maksin Arisandi menyebut hari ini sebagai hasil dari perjalanan panjang penuh keyakinan. Kini, dengan sertifikat internasional di tangan, Bandara Dhoho siap menatap cakrawala lebih jauh—membuka jalur penerbangan luar negeri langsung dari Kediri.

“Dengan status bandara internasional, pintu menuju dunia kini terbuka lebar dari tanah Mataraman,” tuturnya.

Bagi warga, kemudahan ini lebih dari sekadar efisiensi waktu. Isti’anatul Ulfiyah, penumpang asal Nganjuk, mengaku rute baru ini mengubah cara ia bepergian.

“Biasanya kami harus lewat Surabaya. Sekarang bisa langsung ke Kediri—lebih cepat, lebih nyaman,” katanya tersenyum.

Suara-suara seperti Isti’anatul menggambarkan satu hal: Bandara Dhoho telah menjadi simbol kebangkitan daerah. Ia tak sekadar mempersingkat jarak, tapi menyingkat jarak antara mimpi dan kenyataan.

Kini, sayap pesawat yang melintas di atas sawah Kediri membawa lebih dari penumpang—ia membawa kisah tentang kolaborasi, keberanian, dan cita-cita yang tumbuh di tanah para pahlawan. Bandara Dhoho Kediri berdiri sebagai penanda zaman baru, di mana langit tak lagi menjadi batas, melainkan jembatan menuju masa depan.

jurnalis : Anisa Fadila
Bagikan Berita :