foto : Sigit Cahya Setyawan

Himasal Kediri Raya Kecam Tayangan Trans7: Tuntut Chairul Tanjung Minta Maaf Langsung ke Romo Kyai Anwar Manshur

Bagikan Berita :

KEDIRI – Suasana khidmat memenuhi Masjid Baiturrahim Polres Kediri Kota, Kamis (16/10), ketika ratusan alumni dan santri berkumpul dalam istighosah dan doa bersama. Mereka datang dengan satu suara, satu hati: mengecam tayangan di stasiun televisi Trans7 yang dianggap telah merendahkan marwah Pondok Pesantren Lirboyo dan KH. Anwar Manshur, sosok ulama karismatik yang dihormati umat.

Di bawah naungan cahaya lampu masjid yang temaram, gema doa menggema, berpadu dengan rasa geram yang tertahan. Dari podium, Ketua PCNU Kota Kediri, KH. Abu Bakar Abdul Jalil yang juga ketua Himpunan Alumni Ponpes Lirboyo (Himasal) Kediri Raya, menyampaikan. Bahwa kegiatan ini bukan sekadar ritual spiritual, melainkan juga seruan moral untuk menjaga ketenangan dan keamanan masyarakat Kediri agar tetap sejuk dan kondusif.

“Ini bentuk keprihatinan kita semua,” ujar KH. Abu Bakar, yang akrab disapa Gus Ab.

“Kita ingin mengingatkan bahwa merendahkan seorang kiai bukan hanya melukai individu, tapi juga menyakiti hati jutaan santri dan umat yang mencintai beliau.”

Terkait polemik tayangan Trans7, Gus Ab mengungkapkan bahwa pihak Lirboyo telah menerima silaturahmi dan permohonan maaf dari pihak Trans7. Namun, ia menegaskan bahwa permintaan maaf sejati belum tuntas sebelum disampaikan langsung oleh sosok yang bertanggung jawab atas grup media tersebut — Chairul Tanjung, pemilik Transcorp.

“Kami menunggu itikad baik Pak Chairul Tanjung. Kami ingin beliau datang langsung ke Lirboyo, menemui Romo Kyai Anwar Manshur, untuk meminta maaf dengan cara yang terhormat. Ini bukan tentang dendam, tapi tentang martabat dan adab,” tegas Gus Ab dengan suara bergetar, disambut tepuk tangan hadirin.

Dalam kesempatan yang sama, Himasal Kediri Raya membacakan pernyataan sikap resmi yang disampaikan oleh perwakilan mereka, Muhammad Faidul Haq. Pernyataan itu tegas, padat, dan penuh wibawa, terdiri dari empat poin utama yang menggambarkan sikap moral dan kebangsaan para alumni pesantren:

  1. Mengecam keras tayangan video Trans7 yang dinilai merendahkan martabat kiai dan pesantren.

  2. Menuntut permohonan maaf langsung dari penanggung jawab Transcorp, Chairul Tanjung, kepada Romo KH. Anwar Manshur.

  3. Meminta agar semua pihak yang terlibat dalam produksi video tersebut meminta maaf dan diproses hukum sesuai peraturan yang berlaku.

  4. Mendorong media nasional untuk menayangkan program-program positif dan edukatif tentang pesantren dan dunia pendidikan Islam.

Pernyataan itu disambut dengan lantunan shalawat dan pekikan takbir. Wajah-wajah para alumni memancarkan keteguhan hati — bukan amarah membara, melainkan ketegasan yang berakar dari cinta terhadap ulama dan lembaga yang telah membentuk mereka.

Bagi masyarakat Kediri, Pondok Lirboyo bukan sekadar tempat belajar agama. Ia adalah poros moral dan spiritual, tempat ribuan santri menimba ilmu dan adab. Maka, ketika nama besar pesantren itu terseret dalam tayangan yang dianggap melecehkan, gelombang pembelaan muncul bukan karena fanatisme, tetapi karena rasa hormat yang dalam.

“Kita ingin suasana kembali damai,” ujar Gus Ab menutup acara. “Namun kedamaian sejati hanya lahir dari keadilan dan penghormatan. Jika kiai direndahkan, maka bangsa kehilangan arah. Karena kiai adalah cahaya yang menuntun masyarakat.”

Istighosah malam itu menjadi simbol bahwa santri tidak diam bila marwah pesantrennya dilecehkan, namun juga tidak memilih jalan kekerasan. Mereka menjawab dengan doa, dengan sikap, dan dengan tuntutan yang bermartabat — cara khas pesantren dalam menjaga kehormatan.

Peristiwa ini meninggalkan pesan yang lebih besar: di tengah hiruk-pikuk media modern, etika dan adab tetap menjadi fondasi komunikasi publik. Dalam setiap kata dan tayangan, ada nilai yang harus dijaga, karena yang dilukai bukan hanya individu, tetapi juga nurani kolektif bangsa.

jurnalis : Sigit Cahya Setyawan
Bagikan Berita :