foto : Anisa Fadila

Hadapi Arus Digital, JSIT Kediri Perkuat Pendidikan Iman dan Karakter Anak

Bagikan Berita :

KEDIRI — Penguatan iman dan pembentukan karakter anak dinilai menjadi fondasi utama dalam menghadapi derasnya pengaruh lingkungan dan arus digital yang kian tak terbendung. Hal tersebut mengemuka dalam Musyawarah Daerah (Musda) ke-3 Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia Daerah Kediri yang digelar Sabtu (10/1) di Graha Bina Insani, Lirboyo.

Selain menjadi forum evaluasi dan perumusan arah organisasi, Musda ke-3 ini juga menjadi momentum penting regenerasi kepemimpinan melalui pemilihan calon Ketua JSIT Indonesia Daerah Kediri periode 2026–2029.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Wali Kota Kediri, Qowimuddin Thoha, yang ditandai dengan penekanan sirene. Dalam sambutannya, Gus Qowim menegaskan bahwa Musda bukan sekadar agenda rutin, melainkan ruang strategis untuk menentukan peran dan kontribusi JSIT di tengah tantangan pendidikan yang semakin kompleks.

Ia mengapresiasi kiprah JSIT yang telah lebih dari dua dekade berkontribusi dalam dunia pendidikan, termasuk di wilayah Kediri Raya. Saat ini, jaringan sekolah Islam terpadu tersebut menaungi ribuan siswa dan ratusan tenaga pendidik.

Menurutnya, tantangan terbesar pendidikan hari ini bukan hanya soal akademik, melainkan pembentukan karakter di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan dinamika sosial. Gus Qowim menilai, pendekatan pendidikan yang hanya mengandalkan nasihat dan keteladanan sudah tidak lagi memadai.

“Anak-anak tidak cukup hanya dididik dengan tarbiyah bil kalam dan tarbiyah bil hal. Keduanya penting, tetapi masih ada satu metode yang sering dilupakan, yaitu tarbiyah bid du’a, mendidik dengan doa,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya menjadikan doa sebagai kesadaran kolektif antara guru dan murid, bukan sekadar rutinitas formal. Pendekatan pendidikan yang dilandasi cinta, kedekatan emosional, serta sentuhan batin dinilai lebih relevan dibandingkan pola keras yang kerap tidak selaras dengan kondisi psikologis anak masa kini.

Pemerintah daerah, lanjut Gus Qowim, membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya dengan JSIT dan lembaga pendidikan lainnya untuk bersama-sama menyiapkan generasi yang berakhlak, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan zaman.

Senada dengan itu, Ketua JSIT Indonesia Daerah Kediri, Khikmatun Nafi’ah, S.Pd., menyampaikan bahwa penguatan karakter Islami telah menjadi komitmen JSIT sejak dini, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah. Pembiasaan tersebut mencakup kedisiplinan ibadah, pembelajaran Al-Qur’an, hingga penanaman kepedulian sosial.

Menurutnya, iman yang kuat menjadi benteng utama bagi anak-anak dalam menyaring pengaruh negatif lingkungan dan perkembangan digital.

“Jika imannya baik, insyaallah anak-anak mampu memfilter mana yang benar dan mana yang salah, baik dari lingkungan maupun dari dunia digital,” tuturnya.

Saat ini, JSIT Indonesia Daerah Kediri menaungi 19 satuan pendidikan yang terdiri dari 11 KB/TK/RA, enam SD, dan dua SMP yang tersebar di wilayah Kediri Raya. Dalam perjalanannya, JSIT fokus pada tiga pilar utama, yakni pembentukan karakter Islami berbasis Al-Qur’an dan hadis, peningkatan kompetensi guru, serta upaya mendorong kesejahteraan pendidik sebagai bagian dari peningkatan mutu pendidikan.

Musda ke-3 JSIT Kediri diawali dengan seremoni pembukaan dan dilanjutkan dengan sidang organisasi untuk memilih kepengurusan baru. Tiga calon Ketua akan bersaing dalam pemilihan tersebut. Kepengurusan terpilih diharapkan mampu melahirkan program-program yang berdampak nyata dan dirasakan langsung oleh seluruh sekolah di bawah naungan JSIT se-Kediri Raya.

jurnalis : Anisa Fadila
Bagikan Berita :