KEDIRI — SMP Negeri 3 Grogol, Kabupaten Kediri, menorehkan langkah progresif dalam mendukung penguatan moderasi beragama di lingkungan pendidikan. Sekolah ini memulai pembangunan tiga rumah ibadah lintas agama secara bersamaan, yakni musholla, gereja, dan pura.
Prosesi peletakan batu pertama digelar pada Kamis (29/1/2026) dan dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri beserta jajaran, komite sekolah, guru, wali murid, serta perwakilan tokoh lintas agama.
Kepala SMPN 3 Grogol, Musiin, menyampaikan bahwa pembangunan tiga rumah ibadah tersebut merupakan wujud nyata komitmen sekolah dalam merawat keberagaman peserta didik. Ia menegaskan, inisiatif ini tidak akan terwujud tanpa dukungan penuh dari para orang tua murid lintas agama.
“Tanpa kebersamaan orang tua murid dari berbagai latar belakang agama, mimpi ini tidak mungkin terwujud. Gagasan ini kami sampaikan sejak 20 Desember lalu, sebagai ikhtiar menjadikan SMPN 3 Grogol ruang yang nyaman bagi keberagaman. Mungkin terlihat sebagai langkah kecil, tetapi kami yakin dampaknya akan besar,” ujar Musiin.
Hal senada disampaikan Ketua Komite Sekolah SMPN 3 Grogol, Munir. Ia menyebut pembangunan tiga rumah ibadah dalam satu lingkungan sekolah sebagai peristiwa bersejarah, khususnya di tingkat sekolah menengah pertama di Kabupaten Kediri.
“Ini pertama kalinya ada SMP di Kabupaten Kediri yang memiliki tiga tempat ibadah berbeda. Kami mengapresiasi setinggi-tingginya terobosan yang dilakukan kepala sekolah,” kata Munir.
Penguatan Moderasi

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri, Muhsin, turut memberikan apresiasi atas inisiatif tersebut. Menurutnya, langkah SMPN 3 Grogol sejalan dengan kebijakan penguatan moderasi beragama yang tengah digalakkan di dunia pendidikan.
“Pendirian musholla, gereja, dan pura di SMPN 3 Grogol merupakan langkah luar biasa. Ini menjadi sekolah kedua setelah SD Besowo yang memiliki fasilitas serupa. Kami berharap rumah ibadah ini tidak hanya menjadi sarana pembelajaran agama, tetapi juga laboratorium pendidikan karakter moderasi beragama,” jelasnya.
Muhsin menambahkan bahwa moderasi beragama bertumpu pada empat pilar utama, yakni komitmen kebangsaan, toleransi, sikap anti-kekerasan, serta penghargaan terhadap budaya lokal. Jika nilai-nilai tersebut ditanamkan sejak dini, ia optimistis generasi muda mampu menciptakan kehidupan masyarakat yang rukun dan harmonis.
Meski hingga kini belum terdapat regulasi khusus terkait pendirian rumah ibadah di lingkungan sekolah, Dinas Pendidikan menyatakan siap memberikan dukungan nonformal agar proses pembangunan dapat berjalan lancar. Ia juga mendorong sekolah lain untuk menanamkan nilai toleransi melalui berbagai pendekatan, tidak terbatas pada pembangunan fisik semata.
Dalam kesempatan terpisah, Musiin menjelaskan bahwa gagasan pembangunan muncul dari keprihatinan pihak sekolah terhadap kondisi siswa beragama Kristen dan Hindu yang selama ini harus memanfaatkan ruang laboratorium untuk kegiatan keagamaan. Ia menilai kondisi tersebut kurang layak dan tidak mencerminkan prinsip keadilan.
“Jumlah siswa Kristen sekitar 20 anak, Hindu sekitar 20 anak, dan sisanya beragama Islam. Ini bukan jumlah kecil, sehingga perlu difasilitasi dengan baik. Alhamdulillah, inisiatif ini disepakati bersama guru, komite, wali murid, serta mendapat dukungan dari dunia usaha. Pendanaan dilakukan secara terbuka tanpa pungutan wajib,” tegasnya.
Akhlak Mulia

Pembangunan tiga rumah ibadah tersebut ditargetkan selesai dalam waktu sekitar empat bulan. Musiin berharap keberadaan fasilitas ini mampu membentuk karakter peserta didik yang berakhlak mulia, saling menghargai perbedaan, serta hidup rukun dalam keberagaman.
Apresiasi juga datang dari perwakilan wali murid Kristen, Angger. Ia mengaku bersyukur dan bangga karena anak-anak dari kelompok minoritas mendapatkan perhatian dan fasilitas yang setara.
“Anak-anak kami tidak merasa sendiri. Mereka bisa menjalankan ibadah dengan layak, sehingga keimanan mereka juga semakin kuat,” ujarnya.
Sementara itu, guru agama Hindu, Heri Iswanto, menilai pembangunan pura menjadi fondasi penting dalam menanamkan nilai persatuan dan saling menghormati antarumat beragama sejak usia sekolah.
“Meski tantangan terbesar ada pada pembiayaan, semuanya disepakati untuk dikerjakan bersama. Ada yang menyumbang material, ada pula yang membantu tenaga. Pada tahap awal, pura akan difungsikan sebagai tempat persembahyangan,” pungkasnya.
Bagikan Berita :








