KEDIRI – Komitmen Polres Kediri dalam memerangi narkoba kembali terbukti. Selama Operasi Tumpas Semeru 2025 yang digelar selama 12 hari, mulai 30 Agustus hingga 10 September, jajaran Satresnarkoba berhasil mengungkap 14 kasus penyalahgunaan narkotika dan obat keras berbahaya (okerbaya).
Kapolres Kediri, AKBP Bramastyo Priaji, menegaskan keberhasilan itu merupakan bukti nyata komitmen kepolisian dalam menjaga generasi muda dari ancaman narkotika. Dari 14 kasus tersebut, 3 masuk kategori target operasi (TO), sementara 11 lainnya non-TO. Total 16 tersangka ditetapkan, terdiri dari 10 pengedar dan 6 pengguna.
“Rinciannya, ada 9 kasus narkotika dengan 10 tersangka, serta 5 kasus okerbaya dengan 6 tersangka,” jelas AKBP Bramastyo di hadapan jurnalis saat konferensi pers di Aula Mapolres Kediri, Senin (15/09).
Barang bukti yang berhasil disita tidak sedikit:
Sabu-sabu seberat total 98,48 gram
223.902 butir pil dobel L
15 unit ponsel
1 korek api gas, 1 pipet kaca, 2 bong, 2 timbangan digital
1 pack plastik klip
Tiga kasus target operasi mencuri perhatian. Pada 30 Agustus, polisi menyita 17 plastik sabu-sabu seberat 89,22 gram beserta plastik klip kosong dengan berat 84,87 gram. Selanjutnya, pada 1 September, petugas menggagalkan peredaran dua plastik sabu-sabu seberat 0,91 gram (bersih 0,51 gram) ditambah 1.003 butir pil LL. Dan yang terbesar, pada 2 September, polisi mengamankan 222.000 butir pil dobel L yang dikemas dalam tiga kardus cokelat.
Atas perbuatannya, para pelaku dijerat Pasal 114 ayat (2) subs Pasal 112 ayat (2) UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman hukuman berat menanti.
Namun, operasi ini bukan sekadar angka penangkapan. Kapolres menekankan bahwa perang terhadap narkoba tidak hanya melalui penindakan, tetapi juga pencegahan. Sosialisasi dan edukasi terus digencarkan, baik di sekolah-sekolah maupun di tengah masyarakat.
“Kami mengajak para orang tua untuk lebih waspada, ikut mengawasi putra-putrinya agar tidak terjerumus ke dalam lingkaran narkoba,” tegas AKBP Bramastyo.
Polres Kediri menegaskan, operasi ini menjadi peringatan keras bagi para pelaku peredaran gelap. Bahwa di balik setiap butir pil dan gram sabu yang beredar, ada nyawa generasi bangsa yang dipertaruhkan.









