Antisipasi Lonjakan Harga, Pemkot Kediri Siapkan Operasi Pasar dan Gerakan Pangan Murah

Bagikan Berita :

KEDIRI – Menjelang perayaan Imlek, bulan suci Ramadhan, hingga Idul Fitri 1447 H, Pemerintah Kota Kediri bergerak cepat mengantisipasi potensi lonjakan harga dan gangguan pasokan bahan pokok. Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati memimpin langsung High Level Meeting (HLM) Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Kediri, Jumat (13/02/2026).

Rapat strategis tersebut mengangkat tema “Stabilisasi Harga dan Ketersediaan Pasokan Selama Bulan Ramadhan serta Menjelang Idul Fitri 1447 H”. Fokus utamanya adalah memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi dengan harga yang stabil selama momentum hari besar keagamaan.

Dalam arahannya, Wali Kota yang akrab disapa Mbak Wali itu menyampaikan bahwa momen Imlek dan Ramadhan biasanya diikuti peningkatan aktivitas ekonomi. Libur panjang juga berpotensi mendorong kenaikan konsumsi rumah tangga dan mobilitas masyarakat.

“Sebentar lagi masyarakat akan merayakan Imlek dan menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Ini tentu meningkatkan aktivitas ekonomi. Di satu sisi ada kenaikan konsumsi, namun di sisi lain juga memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Januari 2026 Kota Kediri mengalami deflasi sebesar 0,37 persen. Penurunan ini dipicu turunnya harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Namun secara tahunan (year on year), inflasi tercatat sebesar 3,30 persen.

Menurutnya, inflasi tahunan dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain ketersediaan pasokan komoditas pangan strategis, kelancaran distribusi antarwilayah, kondisi iklim dan cuaca, serta pola konsumsi masyarakat pada momen tertentu.

“Sebelumnya saya sudah melakukan survei ke pasar dan memang ada beberapa komoditas yang harganya naik, bahkan cukup signifikan. Karena itu, kita perlu memastikan harga tetap stabil melalui kolaborasi semua pihak,” tegasnya.

Dalam forum tersebut, Wali Kota menekankan sejumlah langkah strategis yang harus segera dijalankan. Pertama, melakukan pemetaan stok dan memastikan ketersediaan bahan pokok di wilayah Kota Kediri. Kedua, menjaga kelancaran distribusi serta memperketat pengawasan guna mencegah praktik penimbunan atau hambatan distribusi yang berpotensi memicu kelangkaan.

Apabila diperlukan, Pemerintah Kota Kediri akan menggelar Operasi Pasar Murni (OPM) dan Gerakan Pangan Murah (GPM). Program tersebut akan dilaksanakan secara terukur dan tepat sasaran agar efektif menjaga daya beli masyarakat.

Selain itu, pemantauan harga akan dilakukan secara intensif. Dengan pengawasan berkala, pemerintah dapat segera melakukan intervensi apabila terjadi kenaikan harga yang signifikan.

“Di momen Imlek, Ramadhan, dan Idul Fitri ini permintaan masyarakat biasanya meningkat. Harapannya, melalui rapat hari ini kita bisa merumuskan langkah konkret untuk menjaga inflasi tetap terkendali di Kota Kediri,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala BPS Kota Kediri Emil Wahyudiono menjelaskan sejumlah komoditas yang menjadi penyumbang deflasi pada Januari 2026, di antaranya cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, cabai merah, telur ayam ras, bensin, serta beberapa komoditas hortikultura seperti kangkung, bayam, sawi hijau, tomat, dan wortel. Penurunan tarif angkutan udara juga turut berkontribusi terhadap deflasi.

Adapun komoditas penyumbang inflasi tahunan meliputi tarif listrik, emas perhiasan, beras, biaya taman kanak-kanak, bahan bakar rumah tangga, serta angkutan udara.

Rapat HLM TPID tersebut turut dihadiri Wakil Wali Kota Qowimuddin, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Hery Purnomo, Deputi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kediri Deasy, perwakilan Polres Kediri Kota, Kejaksaan Negeri, kepala OPD terkait, serta sejumlah tamu undangan lainnya.

Melalui sinergi lintas sektor ini, Pemerintah Kota Kediri optimistis stabilitas harga dan ketersediaan pasokan bahan pokok dapat terjaga, sehingga masyarakat dapat menjalankan ibadah dan merayakan hari besar keagamaan dengan tenang dan nyaman.

Bagikan Berita :