KEDIRI — Di tengah semangat membangun generasi sehat, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Palmturi Melati resmi beroperasi di Ngrancangan, Wonojoyo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Senin (19/1).
Kehadirannya bukan sekadar menghadirkan makanan bergizi, tetapi juga membawa harapan baru: standar gizi terukur, pelayanan aman, serta dampak sosial–ekonomi yang menjalar hingga ke lingkungan desa.
Melalui Program Makan Bergizi Gratis, SPPG Palmturi Melati menyajikan menu sehat yang dirancang sesuai kebutuhan kalori setiap jenjang usia. Lebih dari itu, program ini dirancang sebagai penggerak kesejahteraan, menghubungkan kesehatan anak dengan denyut ekonomi masyarakat sekitar.
Camat Gurah, Moch. Imron, S.Sos., M.M., menegaskan bahwa SPPG harus menjadi benteng terakhir agar tidak ada satu pun anak terlewat dari layanan gizi, terutama pada usia emas pendidikan dini.
Ia mengingatkan, antar-SPPG bukanlah pesaing, melainkan mitra dalam satu misi besar negara: menyiapkan generasi Indonesia yang kuat, sehat, dan berdaya saing.
“Ini bukan pekerjaan ringan. Tanggung jawabnya besar, karena yang disajikan bukan sekadar makanan, tetapi masa depan anak-anak kita. Setiap hidangan harus sehat, aman, dan layak konsumsi,” tegas Imron.
Ia juga memberikan apresiasi kepada para relawan dapur yang rela bekerja di luar jam normal dan menyesuaikan pola hidup demi kelancaran layanan.
Menurutnya, komitmen, disiplin, serta saling mengingatkan menjadi fondasi agar SPPG tidak hanya berdampak pada kesehatan anak, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi lokal, sejalan dengan arahan Presiden.
Ketua Yayasan Palmturi Mulia Jaya, Wahab CB, selaku pengelola SPPG Palmturi Melati, menjelaskan bahwa pembangunan dapur gizi ini dirancang dengan pertimbangan strategis jangka panjang. Targetnya jelas: menghadirkan manfaat berganda bagi masyarakat, baik dari sisi kesehatan, sosial, maupun ekonomi.
Selain melayani pemenuhan gizi, SPPG membuka lapangan kerja bagi relawan serta melibatkan pemasok bahan pangan dari desa sekitar. Dari sisi pengawasan, seluruh dapur dikelola sesuai standar Badan Gizi Nasional (BGN).
“Setiap dapur memiliki struktur manajemen lengkap, mulai kepala SPPG, ahli gizi, hingga administrasi dan akuntansi. Semua bekerja berdasarkan SOP BGN agar layanan berjalan aman, nyaman, dan amanah,” ujar Wahab.
Kapasitas maksimal dapur mencapai 3.000 penerima manfaat. Namun, tahap awal difokuskan pada 1.500 penerima manfaat agar kualitas layanan tetap terjaga, dengan penambahan dilakukan secara bertahap sesuai hasil evaluasi.
Di lapangan, Kepala SPPG Palmturi Melati, Petrus Febrian, memastikan kesiapan layanan dimulai dari kesiapan sumber daya manusia. Seluruh relawan telah mengikuti pelatihan dan sertifikasi dari berbagai mitra dan pendamping, demi menjamin pelaksanaan sesuai standar nasional.
Dari sisi sarana, dapur dilengkapi peralatan memadai. Ompreng standar disterilisasi dan dikeringkan, peralatan masak disiapkan khusus untuk menjaga higienitas. Pemantauan gizi dilakukan langsung oleh ahli gizi yang menghitung kebutuhan kalori setiap porsi berdasarkan jenjang usia.
“Untuk porsi kecil bagi peserta KB, TK, dan SD kelas 1–3, kebutuhan kalori berkisar 600–800 kalori. Sedangkan porsi besar untuk SD kelas 4–6 hingga SMA berada pada kisaran 800–1.000 kalori,” jelas Petrus.
Tak berhenti pada distribusi makanan, SPPG Palmturi Melati juga menggelar edukasi gizi rutin ke sekolah-sekolah. Konsep “Isi Piringku” diperkenalkan, mengajarkan keseimbangan protein, karbohidrat, sayur, serta pelengkap seperti susu, buah segar, atau jus.
Sebagai wujud transparansi, yayasan mengundang 19 kepala sekolah penerima manfaat tahap awal untuk meninjau langsung dapur dan proses pengolahan. Dari ruang dapur sederhana inilah, harapan besar disemai: anak-anak Kediri tumbuh sehat, kuat, dan siap menatap masa depan.
Sebab dari piring yang bergizi, lahir generasi yang berdaya.









