KEDIRI — Semangat urban farming kembali tumbuh di lingkungan Kelurahan Lirboyo. Dibuktikan pada Minggu pagi (16/11), bertempat di Rumah Kompos Kemuning, berada Jalan Raung Gg IV Kelurahan Lirboyo. Digelar pelatihan peningkatan kapasitas Ketahanan Pangan Keluarga Berbasis Sampah Rumah Tangga.
Bila di hari sebelumnya, memberikan pelatihan kepada para Ketua RT, Ketua RW, Pengurus LPMK dan Pengurus Karang Taruna, maka pada Minggu, diperuntukkan para kader kesehatan dan kader PKK. Puluhan kaum perempuan ini berkumpul untuk sebuah misi sederhana namun bermakna: mengubah sampah rumah tangga menjadi kompos, demi kemandirian pangan keluarga dan lingkungan yang lebih lestari.
Pejabat baru Kepala Kelurahan Lirboyo, Panji Hartawan, memandang program yang digelar Kelompok Masyarakat (Pokmas) Lirboyo ini sebagai langkah yang menghadirkan manfaat berlapis. Selain menekan volume sampah, kegiatan ini juga menjadi dorongan bagi warga untuk memenuhi kebutuhan pangan dengan cara yang lebih mandiri.
“Program yang dijalankan teman-teman Pokmas ini sangat baik. Sejalan dengan Program KeBaS (Kediri Bebas Sampah) sekaligus memperkuat gerakan urban farming,” ujarnya.
Pelatihan berlangsung dengan pendekatan praktis. Para peserta diajak mengolah sampah organik menjadi pupuk, hingga memanfaatkannya untuk menanam bibit kangkung dan tomat yang sudah disediakan. Panji berharap sesi ini bukan sekadar pelatihan, melainkan awal dari perubahan pola pikir masyarakat tentang sampah—bahwa apa yang dianggap tidak berguna, sejatinya dapat menjadi sumber kehidupan baru.
Ia menaruh harapan lebih jauh: pelatihan seperti ini dapat menjadi pemantik lahirnya budaya baru dalam pengelolaan sampah. Untuk memperkuat praktik di tingkat RT, kelurahan berencana menambah fasilitas secara bertahap. Tahun depan, bantuan komposter akan diupayakan, meski jumlahnya terbatas, sehingga distribusinya akan diatur per RT.
Namun Panji mengingatkan, keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bertumpu pada alat atau fasilitas. Tantangan terbesar justru ada pada kebiasaan sehari-hari masyarakat.
“Kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya dan setidaknya memilah sampah—itu tantangan paling besar,” tegasnya.
Mengakhiri kegiatan, Panji menyampaikan ajakan penuh makna: persoalan sampah bukan hanya urusan pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama. Pemerintah bisa menyediakan sarana, namun perubahan sejati ada di tangan warga. Melalui pelatihan ini, ia berharap para kader menjadi mata air pengetahuan—mengalirkan edukasi dan mendorong perubahan di lingkungan masing-masing.
Dengan langkah-langkah kecil yang konsisten, Lirboyo berharap dapat tumbuh sebagai kawasan yang tak hanya hijau secara visual, tapi juga hijau dalam kesadaran.









